Pertama di Dunia: Belut Unagi Hasil Budidaya Penuh Mulai Dijual di Jepang
Jepang resmi memulai penjualan komersial belut unagi hasil budidaya penuh pertama di dunia guna mengatasi kelangkaan stok di alam liar. Meski saat ini dihargai 5.000 yen per potong, inovasi ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan hidangan legendaris tersebut dengan harga lebih terjangkau.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Pertama di Dunia: Belut Unagi Hasil Budidaya Penuh Mulai Dijual di Jepang

Belut tersebut mulai dijual untuk masa uji coba sejak Jumat lalu, dalam apa yang secara luas dianggap sebagai yang pertama di dunia. Satu potongnya berharga sekitar 5.000 yen atau 30 dolar. Meski harganya masih relatif mahal, ada harapan harganya akan turun di masa mendatang.

Jaringan supermarket besar Aeon dan perusahaan perikanan dari Jepang bagian barat mengadakan acara khusus di Tokyo sehari sebelumnya. Pihak media diberi kesempatan mencicipi hidangan yang bisa menjadi penyelamat bagi kuliner lezat yang telah lama terancam ini.
Penting bagi belut hasil budidaya penuh untuk menjadi lebih umum di masa depan, kata Wakil Presiden Eksekutif Aeon, Tsuchiya Mitsuko. Ia berharap penjualan komersial skala penuh dengan harga terjangkau dapat segera dimulai.

Dari Telur hingga Dewasa
Pihak perusahaan perikanan Yamada Suisan yang berbasis di Prefektur Oita telah menghabiskan beberapa tahun terakhir mengembangkan metode budidaya siklus penuh. Mereka menerima bantuan teknis dari Japan Fisheries Research and Education Agency.
Budidaya konvensional melibatkan penangkapan glass eel di alam liar dan membesarkannya hingga dewasa. Sebaliknya, siklus penuh dimulai langsung dari telur. Setelah menetas, larva dibudidayakan hingga menjadi dewasa.

Pihak perusahaan menyatakan kini mampu membesarkan sekitar 10.000 glass eel per tahun.
Sangat penting untuk menjaga tradisi kuliner tetap hidup dengan membiakkan sidat, baik secara konvensional maupun melalui budidaya siklus penuh, kata anggota dewan Kato Naotake. Rasanya sama lezatnya, dan saya yakin konsumen akan merasakan hal serupa.

Unagi Dikonsumsi Selama Berabad-abad
Unagi merupakan bagian vital dari budaya kuliner Jepang. Sebagian besar orang menyantapnya dalam bentuk irisan tanpa tulang yang ditusuk lalu dipanggang. Gaya memasak yang dikenal sebagai kabayaki ini konon sudah ada sejak sekitar 500 tahun silam. Referensi tertulis pertama mengenai sidat sebagai makanan ditemukan jauh pada abad ke-8.

Namun, industri ini terpukul keras, kemungkinan akibat penangkapan berlebih dan perubahan lingkungan. Sidat Jepang ditetapkan sebagai spesies terancam punah pada 2014. Pemerintah menyatakan jumlah tangkapan anjlok drastis dari puncaknya sebesar 3.387 ton pada 1961 menjadi hanya 52 ton pada 2024.
Penelitian Selama Puluhan Tahun
Budidaya siklus penuh sidat Jepang dikenal sangat sulit. Para peneliti telah berupaya mengembangkan metode yang layak secara komersial selama lebih dari setengah abad.

Telur sidat pertama kali menetas di laboratorium pada 1973. Namun, langkah selanjutnya—membesarkan larva hingga menjadi benih sidat bening—menjadi tantangan besar bagi peneliti selama bertahun-tahun. Di alam liar, sidat memijah di kedalaman Samudra Pasifik, jauh dari jangkauan manusia.
Baru pada 2002, peneliti pemerintah berhasil membesarkan beberapa larva hingga tahap benih menggunakan pakan telur hiu. Terobosan besar kemudian terjadi pada 2010 saat budidaya siklus penuh berhasil diwujudkan untuk pertama kalinya.

Meski demikian, prosesnya sangat mahal. Kala itu, biaya membesarkan satu ekor benih sidat bening diperkirakan mencapai 40.000 yen atau sekitar 400 dolar. Terlebih lagi, banyak larva yang mati dalam proses yang memakan waktu lebih dari 200 hari tersebut.
Fokus Menurunkan Biaya
Peneliti menjajal berbagai cara untuk menekan biaya, mulai dari menggunakan telur ayam sebagai pakan, merancang tangki berbentuk khusus, hingga menjaga larva yang peka cahaya dalam kegelapan yang nyaris total.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Kini, biaya produksi satu ekor belut kaca di laboratorium mencapai sekitar 1.800 yen atau 11 dolar. Target berikutnya adalah menekan harga hingga kisaran 800 yen agar setara dengan harga belut kaca liar.

Kini, belut hasil budidaya siklus penuh mulai dipasarkan di sejumlah supermarket besar dalam tahap uji coba. Ini bukan tujuan akhir, melainkan sebuah awal, ujar Presiden Yamada Suisan, Yamada Shintaro. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan skala produksi. Kami menargetkan produksi 100.000 ekor belut kaca pada tahun 2028.
Mengembangkan Pasar Belut Hasil Laboratorium

Belut merupakan spesies yang terancam punah di seluruh dunia. Jepang telah berkolaborasi dengan negara-negara Asia Timur untuk membatasi jumlah tangkapan dan memperketat regulasi. Namun, praktik perburuan liar serta penangkapan ikan ilegal yang tidak dilaporkan diyakini masih menjadi persoalan serius.
Pemerintah Jepang berharap metode budidaya siklus penuh ini dapat melindungi populasi sidat sekaligus menjamin stabilitas pasokan bagi konsumen.
Keberlanjutan sumber daya menjadi kian krusial di tengah perubahan iklim, ungkap Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Suzuki Norikazu pada 19 Mei. Pemerintah berkomitmen mendukung budidaya sidat siklus penuh untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional.
Pemerintah berencana mengembangkan pasar sidat hasil laboratorium dengan mendorong keterlibatan lebih banyak perusahaan. Upaya mengamankan investasi dan tenaga kerja akan menjadi tantangan besar yang harus diatasi demi melestarikan salah satu hidangan paling istimewa dan berharga di Jepang.
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Versi Berita.Jepang.org
- Peran
- Kurasi, terjemahan, dan penyuntingan naskah.
- Pembaruan
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.