Lewati ke konten utama
Berita.Jepang.org

Hukuman Sepeda Japan Post Picu Debat Pelecehan Kekuasaan di Jepang

Seorang pekerja Japan Post dihukum mengantar puluhan kilogram surat menggunakan sepeda di tengah cuaca panas ekstrem setelah insiden kecelakaan kecil. Kasus ini memicu kembali diskusi publik mengenai batasan tegas antara disiplin kerja dan perundungan di tempat kerja.

NHK WORLD3 mnt

Bagikan Artikel

Petugas pos di Jepang sedang mengantar surat menggunakan sepeda di bawah terik matahari.

Visual Utama

Hukuman Sepeda Japan Post Picu Debat Pelecehan Kekuasaan di Jepang

Tutup
Petugas pos di Jepang sedang mengantar surat menggunakan sepeda di bawah terik matahari.

Sisi Kelam Kedisiplinan

Pekerja pos tersebut mengatakan kepada NHK bahwa perintah yang diterimanya di tengah puncak musim panas adalah hukuman yang tergolong pelecehan kekuasaan.

Saat bertugas di akhir Agustus, ia memarkir sepeda motor dinasnya yang kemudian tak sengaja terjatuh dan merusak kendaraan lain. Meski insiden tersebut tidak berdampak serius, atasannya tetap memerintahkan dia untuk beralih menggunakan sepeda selama dua minggu.

Pekerja pos itu berkisah bahwa ia harus menggunakan sepeda listrik untuk membawa puluhan kilogram surat—beban yang sama beratnya dengan saat ia menggunakan sepeda motor.

Ia menjalani rutinitas itu selama delapan hari. Lima hari di antaranya bersuhu di atas 35 derajat Celsius, yang membuatnya mandi keringat dan kelelahan luar biasa. Ia mengaku seluruh badannya terasa sakit keesokan paginya.

Pekerja pos asal Tokyo ini menganggap paksaan mengganti sepeda motor dengan sepeda sebagai bentuk pelecehan kekuasaan.
Pekerja pos asal Tokyo ini menganggap paksaan mengganti sepeda motor dengan sepeda sebagai bentuk pelecehan kekuasaan.

Ia mengaku hal itu sangat menyakitkan secara fisik dan mental, terlebih karena sang atasan tidak memberikan alasan yang jelas di balik perintah tersebut.

Japan Post menjelaskan kepada NHK bahwa perintah tersebut merupakan bagian dari pelatihan untuk mencegah insiden serupa terulang, bukan sebuah hukuman.

Namun, pihak perusahaan mengakui bahwa durasi pelatihan tersebut cukup lama dan mereka gagal memberikan penjelasan lengkap mengenai tujuannya.

Masalah yang Telah Lama Berlangsung

NHK menemukan bahwa perintah serupa juga diterapkan di kantor pos lain. Japan Post sebenarnya telah menyadari keresahan para pekerja sebelum kasus terbaru ini mencuat.

Kotak saran internal telah menerima desakan untuk menghapus praktik tersebut sejak tiga tahun lalu. Saat itu, perusahaan menyatakan bahwa langkah tersebut tidak pantas jika diterapkan sebagai hukuman.

Kantor pos Jepang kini menjadi sorotan terkait dugaan pelecehan di tempat kerja.
Kantor pos Jepang kini menjadi sorotan terkait dugaan pelecehan di tempat kerja.

Japan Post melakukan survei pada tahun fiskal lalu, namun hanya mewawancarai staf keamanan di kantor cabang tanpa meminta masukan dari karyawan yang terdampak langsung. Perusahaan menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat mengonfirmasi adanya unsur hukuman dalam perintah tersebut.

Dinilai sebagai Hukuman

Sejak kasus terbaru ini terungkap, perusahaan telah melarang praktik tersebut bagi karyawan yang terlibat dalam kecelakaan lalu lintas.

Pengumuman Japan Post yang melarang atasan mewajibkan petugas pengiriman beralih ke sepeda setelah mereka terlibat kecelakaan lalu lintas.
Pengumuman Japan Post yang melarang atasan mewajibkan petugas pengiriman beralih ke sepeda setelah mereka terlibat kecelakaan lalu lintas.

Dokumen yang diperoleh NHK menyatakan tidak ada alasan operasional untuk praktik tersebut, dan tindakan itu dapat dikategorikan sebagai bentuk hukuman atau pelecehan.

Pola Pemaksaan

Kaneko Masaomi dari Workplace Harassment Research Institute sering memberikan saran kepada perusahaan tentang cara mengenali dan mencegah pelecehan. Ia menyebut insiden di Japan Post bukanlah kasus tunggal, melainkan bagian dari pola yang berakar dalam budaya kerja Jepang.

Kaneko Masaomi, pakar di bidang pelecehan di tempat kerja.
Kaneko Masaomi, pakar di bidang pelecehan di tempat kerja.

Kaneko menjelaskan bahwa contoh serupa juga muncul di industri lain; mulai dari perusahaan yang mendenda staf atas kesalahan kecil, memaksa tenaga penjual berkinerja rendah menyalin kitab suci Buddha atau naik-turun tangga kuil, hingga menyuruh pengemudi taksi berlari maraton.

Praktik menyalin kitab suci Buddha sebagai bentuk hukuman kerja, menurut Kaneko Masaomi.
Praktik menyalin kitab suci Buddha sebagai bentuk hukuman kerja, menurut Kaneko Masaomi.

Lingkungan kerja di Jepang secara tradisional sangat menekankan ketekunan dan motivasi, ujar Kaneko. Ia menegaskan pentingnya perusahaan memahami bahwa iklim kerja yang ramah karyawan akan berdampak positif pada performa bisnis dalam jangka panjang.

Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB

Sumber Berita

Penerbit
NHK WORLD
Tanggal Sumber
Pranala Sumber

Dengarkan Artikel

Putar versi audio langsung dari browser Anda.

Menyiapkan audio browser...

Kata Kunci

Jejak Topik

Komentar Pembaca

Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.