Suhu Ekstrem di Jepang Pukul Sektor Pertanian, Harga Sayuran Mulai Melonjak
Gelombang panas di Jepang yang mencapai rekor tertinggi sejak 1898 menyebabkan penurunan hasil panen sayuran secara signifikan. Fenomena cuaca ekstrem ini berdampak langsung pada kenaikan harga pangan di pasar domestik.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Suhu Ekstrem di Jepang Pukul Sektor Pertanian, Harga Sayuran Mulai Melonjak

Rekor Suhu Panas di Jepang

Langkah kaki di trotoar Tokyo seolah menjadi tarian rutin di persimpangan jalan karena suhu melonjak di atas 35 derajat Celsius selama beberapa hari berturut-turut.
Bukan hanya manusia yang mulai kewalahan menghadapi cuaca panas ini.

Otoritas cuaca Jepang menyatakan negara tersebut baru saja melewati bulan Juni terpanas dalam sejarah, dengan suhu rata-rata nasional melampaui 2 derajat Celsius di atas normal.
Ancaman bagi Kesehatan

Oikawa Yoshinori dari Badan Meteorologi menyebut suhu bulan lalu sangat panas dan tidak lazim, menyerupai puncak musim panas. Ia memperingatkan potensi rekor suhu tertinggi tahun ini dan mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah pencegahan sengatan panas.
Jumlah penderita sengatan panas melonjak tajam. Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana melaporkan bahwa dalam sepekan hingga hari Minggu, sebanyak 10 ribu orang telah dilarikan ke rumah sakit akibat kondisi tersebut.
Hawa panas yang menyengat berdampak besar bagi kesehatan manusia dan kini mulai memengaruhi pasokan bahan pangan kita.
Cuaca Panas Picu Lonjakan Harga Sayuran
Suhu ekstrem telah merusak hasil panen, menyebabkan sebagian sayuran berubah warna dan tidak layak lagi dikonsumsi.

Manajer sebuah supermarket di Kota Kasukabe, Prefektur Saitama, menyebutkan bahwa harga tomat, mentimun, dan sayuran lainnya tetap tinggi sepanjang musim panas ini.
Itakiyo Hideki biasanya menjual tiga buah mentimun seharga sekitar 100 yen, namun kini ia terpaksa mematok harga yang lebih tinggi.
Tomat yang Menguning
Itakiyo mengaku khawatir dengan kondisi tomat-tomat tersebut.

Itakiyo menyebutkan adanya penurunan pasokan yang tiba-tiba belakangan ini, sementara beberapa tomat yang tiba di tokonya tampak menguning tidak wajar.
Ia menengarai suhu panas ekstrem sebagai penyebabnya. Menurutnya, permintaan tomat diperkirakan akan terus melonjak dalam beberapa pekan ke depan.
Ia menjelaskan bahwa musim panas adalah masa puncak permintaan tomat, sehingga jika pasokan terus menipis, kenaikan harga pun tak terelakkan.
Kekhawatiran Pelanggan Asing

Manajer sebuah supermarket yang populer di kalangan warga asing menyebutkan bahwa musim panas ini sangat sulit untuk mempertahankan stok hasil tani berkualitas yang dipasok dari berbagai wilayah di Jepang.

Takahashi Fumie menuturkan bahwa saat pengiriman tiba, beberapa sayuran seperti selada dan bayam sebenarnya sudah terdampak suhu panas selama transportasi. Sayuran tersebut sangat rentan rusak akibat panas, sehingga pihak toko harus ekstra hati-hati demi memastikan produk yang ditawarkan tetap berkualitas dan aman dikonsumsi pelanggan.
Seorang pelanggan mengamati bahwa warga Jepang umumnya masih menganggap sayuran domestik jauh lebih unggul dibanding sayuran dari Amerika Serikat. Namun, ia melihat tanaman di sekitarnya mulai terdampak cuaca. Menurutnya, masalah panas dan kekurangan air menyebabkan banyak tanaman mati tanpa bisa tertolong, sebuah pemandangan yang menyedihkan.
Harga Mentimun Melambung
Menurut Kementerian Pertanian, harga grosir mentimun di Tokyo pada hari Senin mencapai 368 yen, atau sekitar 2,5 dolar AS, per kilogram. Angka tersebut 32 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata di masa lalu.
Bukan hanya mentimun yang harganya berfluktuasi. Kementerian mengaitkan kenaikan harga ini dengan pertumbuhan tanaman yang melambat akibat suhu yang tidak stabil sejak musim semi.
Tanaman yang Tumbuh Melengkung
Kota Date di Prefektur Fukushima dikenal sebagai salah satu produsen mentimun terbesar di Jepang. Namun, Sato Takuya, seorang petani setempat, mengatakan hasil panennya kini sedang merosot tajam.

Sato menjelaskan bahwa suhu 35 derajat Celsius yang terjadi setiap hari telah membakar dedaunan, sehingga air menguap dengan cepat. 'Mentimun mengalami dehidrasi, dan itulah yang menyebabkannya melengkung,' ujarnya.
Sato menyebutkan bahwa ia hanya mampu memanen sekitar separuh dari jumlah mentimun lurus dibandingkan perolehan tahun lalu.
Ia menambahkan bahwa mentimun melengkung lebih sulit dikemas, yang kemudian menyulitkan pengiriman dan meningkatkan biaya operasional.

Saya sedih melihat mentimun-mentimun ini layu. Saya berharap cuaca panas segera mereda agar mentimun bisa tumbuh tegak kembali.
Ladang Tomat yang Terpukul
Yamamoto Katsuki, seorang petani tomat di Kota Matsuyama, Prefektur Ehime, menunjukkan foto ladang tomatnya dalam kondisi normal kepada NHK.

Ia menargetkan panen sekitar 600 kilogram tomat tahun ini, tetapi seluruh tanamannya justru mengering. Hal ini terjadi setelah suhu melonjak drastis hingga di atas 30 derajat Celsius.

Biasanya, rumah kacanya akan dipenuhi warna merah ranum. Yamamoto sendiri sudah bertani dengan cara ini selama 24 tahun.

Namun, ia mengaku ini adalah pertama kalinya ia gagal panen total. Meski masih terpukul oleh kerugian tersebut, ia mencoba fokus pada persiapan untuk tahun depan.
Cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlanjut, termasuk risiko hujan lebat di sejumlah wilayah. Dari ladang hingga ke meja makan, musim ini menjadi tantangan berat bagi semua orang yang terbiasa menikmati hasil bumi berkualitas tinggi dari Jepang.
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Versi Berita.Jepang.org
- Peran
- Kurasi, terjemahan, dan penyuntingan naskah.
- Pembaruan
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.