Strategi Pemulihan Nissan: Pangkas 11.000 Pekerjaan demi Hadapi Krisis Keuangan
Nissan Motor berencana memangkas 11.000 lapangan kerja tambahan hingga tahun fiskal 2027 untuk mengejar profitabilitas setelah mencatat kerugian bersih 4,5 miliar dolar. Langkah drastis ini diambil sebagai respon atas penurunan angka penjualan kendaraan yang melampaui perkiraan sebelumnya.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Strategi Pemulihan Nissan: Pangkas 11.000 Pekerjaan demi Hadapi Krisis Keuangan

Siapa Saja yang Terdampak?
CEO Nissan Motor Ivan Espinosa menyatakan pada Selasa bahwa perusahaan harus memprioritaskan pembenahan internal secara lebih mendesak dan cepat. Targetnya adalah meraih profitabilitas dengan mengurangi ketergantungan pada volume penjualan.
Ia menambahkan bahwa Nissan berencana memangkas 11.000 lapangan kerja lagi hingga tahun fiskal 2027, seiring penurunan penjualan kendaraan yang melampaui perkiraan. Sebelumnya pada November, produsen otomotif tersebut telah mengumumkan pemangkasan 9.000 posisi.

Kebijakan ini membuat total PHK mencapai sekitar 20.000 orang, atau sekitar 15 persen dari seluruh tenaga kerja grup global perusahaan.
Perusahaan berencana merampingkan jumlah pabrik global dari 17 menjadi 10 lokasi untuk memangkas kapasitas produksi di luar China sebanyak 1 juta unit, sehingga menjadi sekitar 2,5 juta unit pada tahun fiskal 2027. Hingga kini, manajemen belum memutuskan pabrik mana yang akan menjadi sasaran.

Seorang karyawan pria berusia 30-an di pabrik Nissan Prefektur Fukuoka berharap perusahaan mengupayakan segala cara untuk bertahan, seperti menekan biaya operasional alih-alih menutup pabrik.
Seorang karyawan wanita di salah satu perusahaan grup mengungkapkan kecemasannya akan masa depan.
Apa Penyebab Defisit Besar Ini?

Nissan mencatat defisit lebih dari 600 miliar yen (sekitar 4 miliar dolar) pada tahun fiskal 1999. Di bawah kepemimpinan Carlos Ghosn yang menjabat sebagai Ketua Nissan Motor kala itu, perusahaan berhasil meraih surplus pada tahun fiskal 2000 dan meluncurkan kebijakan ekspansi setelah menutup sejumlah pabrik serta memangkas lebih dari 20.000 tenaga kerja.
Melalui pembangunan berbagai pabrik baru di seluruh dunia, perusahaan berhasil mendongkrak penjualan dari di bawah 3 juta unit menjadi 5,77 juta unit pada tahun fiskal 2017.
Namun, Ghosn ditangkap pada 2018 atas tuduhan pelanggaran keuangan. Di tengah ambisi ekspansi tersebut, Nissan justru kesulitan meluncurkan kendaraan baru dengan desain inovatif. Presiden Nissan, Uchida Makoto, yang menjabat sejak 2019, kemudian mengumumkan pergeseran fokus dari kuantitas ke kualitas dengan menutup pabrik di Spanyol dan Indonesia. Perusahaan pun memangkas kapasitas produksinya dari 7 juta unit menjadi 5,4 juta unit.

Saat ini, Nissan memiliki kapasitas produksi global sebesar 5 juta kendaraan, namun realisasi produksinya hanya mencapai 3,1 juta unit pada tahun fiskal lalu.
Perusahaan mengaku masih berjuang menghadapi kelesuan penjualan, terutama di pasar utama Amerika Serikat yang kian menantang akibat kebijakan tarif pemerintahan Trump.
Espinosa menyebut fluktuasi tarif tersebut membuat Nissan sulit menyusun rencana bisnis. Ia pun berharap masalah ini bisa segera tuntas.
Kolaborasi, Bahkan dengan Pesaing
Petinggi Nissan telah mengusulkan berbagai langkah lain untuk memulihkan bisnis, termasuk berkolaborasi dengan perusahaan lain.
Perusahaan tengah mempertimbangkan kemitraan dengan Honda Motor di bidang kecerdasan kendaraan dan elektrifikasi, meski rencana merger sempat kandas pada Februari lalu.

Presiden dan CEO Honda Motor Mibe Toshihiro menyatakan pada Selasa bahwa mereka belum membahas rencana merger untuk saat ini. Namun, mereka akan fokus memaksimalkan manfaat kerja sama demi meningkatkan daya saing agar bisa memimpin industri.
Kedua produsen mobil tersebut berencana membahas potensi bagi Honda untuk memanfaatkan kelebihan kapasitas di pabrik Nissan di AS, menyusul kebijakan tarif tambahan pemerintahan Trump untuk mobil dan suku cadang.
Nissan juga menjalin kemitraan dengan Mitsubishi Motors di AS. Nissan akan menjual kendaraan hibrida plug-in buatan Mitsubishi, dan sebagai imbalannya, akan menyediakan model kendaraan listrik terbarunya bagi Mitsubishi.
Produsen mobil asal Prancis, Renault, akan menyediakan mobil listrik mini bagi Nissan di Eropa serta memasok kendaraan untuk pasar India.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.