Perjuangan Rakyat Myanmar Melawan Junta Militer dalam Manga 'Myanmar: The Last Stand'
Manga kolaborasi penulis Prancis dan ilustrator Hong Kong ini membangkitkan perhatian dunia terhadap perjuangan rakyat Myanmar melawan junta militer. Karya ini memotret kemarahan dan keberanian generasi muda yang bertaruh nyawa demi demokrasi sejak kudeta empat tahun lalu.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Perjuangan Rakyat Myanmar Melawan Junta Militer dalam Manga 'Myanmar: The Last Stand'

Kemarahan Kaum Muda
Manga ini dibuka dengan luapan amarah yang ditujukan kepada pemimpin junta: 'Min Aung Hlaing, Aku membencimu lebih dari rasa sakit datang bulan!' Kemarahan itu mencerminkan percakapan daring para pemuda Myanmar yang dibagikan kepada penulis pascakudeta: 'Aku lebih baik mati daripada harus hidup kembali di bawah kekuasaan militer.'
'Kita akan melewati semua ini.'

Karya ini memutar kembali waktu ke November 2020, saat para pemilih muda bersukacita memamerkan jari bertinta sebagai bukti telah memberikan suara dalam pemilihan umum.

Sejak pengambilalihan kekuasaan oleh militer pada 2021, warga sipil turut bergabung dalam gerakan perlawanan. Merasa komunitas internasional gagal bertindak, kaum muda merasa tidak punya pilihan selain mengangkat senjata.

Kolaborasi Global
'Myanmar, the Last Stand' merupakan hasil kolaborasi antara Frédéric Debomy, penulis asal Prancis, dan Lau Kwong-Shing, seniman dari Hong Kong. Karya yang terbit perdana pada 2023 ini sekarang tersedia dalam versi digital gratis dalam empat bahasa melalui situs web penerbit di Taiwan.
Berkat peran Nang Mya Kay Khaing, seorang akademisi sekaligus aktivis asal Myanmar yang bermukim di Jepang, edisi cetak bahasa Jepang pun berhasil diterbitkan tahun lalu.
Khaing pertama kali menginjakkan kaki di Jepang pada 1989 untuk mempelajari bahasa Jepang di Osaka, sebelum akhirnya meraih gelar PhD dari sebuah universitas di Kyoto. Kini ia mengajar ekonomi pembangunan di Kyoto Seika University sembari aktif bekerja sebagai penerjemah lisan dan tulisan untuk bahasa Jepang serta Burma.

Meski bertanggung jawab atas teks edisi Jepang 'Myanmar, the Last Stand', ia merasa ilustrasi di dalamnya sudah berbicara banyak. Setiap gambar menangkap karakter orang-orang secara mendetail, bahkan hingga ke raut wajah yang membuat pembaca seolah berada di lokasi kejadian. Bagi Khaing, menerjemahkan novel grafis adalah tantangan yang benar-benar baru.
Khaing khawatir perhatian dunia kini mulai teralih ke tempat lain. Ia pun memutuskan untuk mengadakan pameran ilustrasi buku tersebut demi meningkatkan kesadaran di kampusnya, yang dikenal lewat fakultas manga dan anime. 'Saya ingin para pengunjung menyadari bahwa meskipun berada jauh, ada banyak cara untuk mendapatkan informasi,' ujarnya.

Seorang mahasiswa muda menuturkan bahwa pameran ini membuktikan kekuatan luar biasa manga sebagai media untuk menyampaikan perasaan dan kenangan. Mahasiswa lainnya mengaku terkejut dengan situasi di Myanmar: 'Saya selalu mengira lebih baik mengalah dalam perang dan konflik daripada melawan, namun pemikiran saya berubah setelah melihat manga ini yang memperlihatkan bahwa masyarakat di sana sudah tidak sanggup lagi menanggungnya.'
Seni sebagai Bentuk Aktivisme
Penulis Frédéric Debomy merupakan pendukung lama gerakan demokrasi di Myanmar. Ia menyatakan, 'Hampir semua orang menentang kembalinya kediktatoran militer. Masyarakat terlibat dan demonstrasi terjadi di mana-mana. Saya rasa manga bisa menjadi cara yang tepat untuk menunjukkan perlawanan warga terhadap sistem yang ditolak oleh mayoritas orang.'

'Mereka berjuang sendirian dalam pertempuran yang sangat sulit dan penuh pengorbanan. Jadi, jika saya bisa sedikit mengurangi rasa terisolasi itu, saya rasa itu hal yang baik,' tambahnya.

Debomy menggandeng Lau Kwong-Shing untuk menghidupkan naskahnya. 'Situasinya memang tidak persis sama,' kata Lau, 'namun penindasan terhadap aksi protes di Hong Kong memiliki kemiripan.'
Lau telah mengerjakan berbagai proyek manga internasional, termasuk 'The Fallen City: Hong Kong' yang menggambarkan pengalamannya sendiri dalam aksi protes di Hong Kong. Ia pindah ke Taiwan pada tahun 2021 untuk menghindari persekusi, dan di sanalah ia menuangkan pengalamannya di kampung halaman untuk menggambarkan penderitaan di Myanmar.

Meskipun sejarah dan pemerintahan kita berbeda, saya rasa naluri kemanusiaan kita tetap sama. Jika penindasan dan ketidakadilan yang melanggar hukum terjadi, kita akan merasa marah dan mencoba melawan. Saat ketimpangan sudah melampaui batas, melawan adalah reaksi alami manusia.
Melalui kolaborasi via surel, Debomy berupaya menangkap suara para karakter secara akurat. Bersama Lau, ia menghidupkan cerita lewat perpaduan antara realitas dan simbolisme.
Salah satu halaman memperlihatkan sekelompok anak muda menembaki balon berlogo dolar, menyimbolkan tekad untuk memutus aliran dana luar negeri bagi militer.

Pada adegan lain, sehelai bulu melayang dari langit cerah dan jatuh ke lumpur. Ini mencerminkan duka rakyat yang diseret ke kubangan oleh kediktatoran militer.

Khaing, sang penerjemah, tertarik pada proyek ini karena dampak globalnya. Manga ini menyadarkan saya bahwa dunia internasional masih terus memantau, terbukti dari perhatian orang-orang di Prancis hingga Hong Kong, ujarnya.
Dalam kata pengantar versi bahasa Jepang karyanya, Khaing menuliskan sebuah petikan dalam bahasa Jepang dan Burma.

Menampilkan Talenta Muda
Pameran di Universitas Kyoto Seika ini turut menampilkan karya anak-anak serta kaum muda pengungsi di perbatasan Myanmar-Thailand, di luar wilayah Myanmar. Melalui karya tersebut, mereka menyuarakan tekanan yang dirasakan di bawah kekuasaan militer.

Khaing mencemaskan langkah mereka selanjutnya. Ia menuturkan bahwa banyak aktivis mulai merasa lelah setelah 4 tahun perlawanan dan bertanya-tanya berapa lama lagi mereka sanggup bertahan di tengah masa depan yang tidak pasti.
'Myanmar, the last stand' merupakan sarana untuk menyebarkan informasi. Seorang siswa SMA Jepang yang terlibat dalam penggalangan dana menyebut buku ini mendorongnya untuk ikut berpartisipasi. Ia berpendapat bahwa meski sebagian orang merasa tidak perlu mencampuri urusan yang bukan bagian dari hidup mereka, ia percaya penting bagi kita untuk membantu sebisa mungkin saat mengetahui suatu masalah dunia. Baginya, penting untuk memikirkan cara membantu Myanmar meski sebagai orang luar.

Menjadikannya Perlawanan 'Terakhir'
Bagi Khaing, 'Saya hanya ingin melihat berakhirnya situasi di mana orang-orang kehilangan nyawa sesegera mungkin. Saya mendambakan sebuah negara tempat setiap nyawa terlindungi, dan saya bertekad melakukan apa pun untuk mewujudkannya.'
Buku ini ditutup dengan lautan wajah kaum muda yang mengelilingi kutipan seorang penyair yang wafat dalam tahanan militer. Bagian ini menjadi penghormatan bagi mereka yang telah memberikan pengorbanan tertinggi dalam perjuangan demi kebebasan.
'Mereka membidik kepala, tetapi Mereka tidak menyadari bahwa revolusi bersemayam di dalam hati.'

Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.


