Jepang Belajar Hidup Bersama Beruang
Serangan beruang di Jepang tak lagi terbatas di pegunungan; kini juga terjadi di lahan pertanian, pinggiran kota, dan kawasan perumahan. Perjumpaan meningkat, sementara otoritas menghadapi tekanan untuk mengendalikan populasi beruang.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Jepang Belajar Hidup Bersama Beruang

Berlumuran Darah
Pria yang menekan bel pintu itu berlumuran darah. Saat pemilik rumah membuka pintu, ia menemukan pria itu merangkak dengan keempat anggota tubuhnya. Pria itu mengatakan bahwa ia diserang beruang dan memohon agar dipanggilkan ambulans.

Korban sedang bekerja di lahan pertanian di Kota Nasushiobara, sekitar dua jam di utara Tokyo, ketika beruang menyerang. Ia menderita luka parah di wajah sebelum melarikan diri mencari bantuan.
Insiden ini merupakan salah satu dari semakin banyaknya perjumpaan antara manusia dan beruang di seluruh Jepang. NHK menemukan bahwa beruang telah membunuh lima orang dan melukai setidaknya 40 orang lainnya sejak April.
Menghitung Populasi Beruang
Serangan semakin sering terjadi. Pihak berwenang pun menghadapi pertanyaan mendasar: berapa banyak beruang yang ada?
Hingga kini, Jepang mengandalkan survei yang dilakukan masing-masing wilayah, dengan metode dan interval yang berbeda-beda. Hal itu menyulitkan perkiraan populasi beruang secara akurat maupun penentuan cara mengelolanya.

Kementerian Lingkungan Hidup kini menjalankan survei terstandar. Survei ini diharapkan memberi gambaran yang lebih jelas.
Pendekatannya mengandalkan ciri khas beruang hitam Asia, spesies yang dominan di sebagian besar wilayah Jepang. Setiap hewan memiliki tanda putih unik di dadanya.

Petugas memikat beruang dengan campuran madu dan sedikit anggur. Ketika hewan itu berdiri untuk memeriksa aroma tersebut, kamera yang dipasang di pohon terdekat memotret tanda khasnya.

Dengan mengidentifikasi setiap beruang dan mencatat seberapa sering mereka muncul, para peneliti dapat memperkirakan ukuran populasi lokal.
Koike Shinsuke, profesor di Universitas Pertanian dan Teknologi Tokyo, mengatakan data tersebut akan membantu otoritas menyeimbangkan konservasi dan keselamatan publik.

Tujuannya bukan hanya mengurangi jumlah beruang, katanya. Tujuannya juga menjaga populasi yang sehat di pegunungan. Survei memberi dasar bagi tiap prefektur untuk memahami populasinya dan menentukan cara terbaik mengelolanya.
Tokyo Akan Cabut Larangan Perburuan Beruang
Masalah ini kian mendesak. Minggu ini, Pemerintah Metropolitan Tokyo mengumumkan rencana melonggarkan larangan perburuan beruang hitam Asia untuk pertama kalinya dalam sekitar 20 tahun, menyusul serangkaian serangan di pinggiran ibu kota.

Pejabat kini menyusun rencana pengelolaan baru, termasuk batas penangkapan beruang hitam Asia, sebelum larangan dilonggarkan pada tahun fiskal berikutnya.
Beruang terus mendekati kota dan kawasan perumahan. Tantangan Jepang kini bukan sekadar merespons serangan satu per satu, melainkan mengelola populasi satwa liar yang hidup semakin dekat dengan manusia.
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Versi Berita.Jepang.org
- Peran
- Kurasi, terjemahan, dan penyuntingan naskah.
- Pembaruan
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.