Proyek Maglev Jepang Bergerak Lagi setelah Lampu Hijau dari Shizuoka
Impian Jepang menghubungkan Tokyo dan Nagoya dengan kereta maglev supercepat kembali bergerak setelah tertunda selama satu dekade karena kekhawatiran lingkungan. Jika selesai, perjalanan akan terpangkas dari 90 menit dengan kereta peluru menjadi 40 menit.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Proyek Maglev Jepang Bergerak Lagi setelah Lampu Hijau dari Shizuoka

Transportasi Generasi Baru
Fase pertama jalur Linear Chuo Shinkansen akan menghubungkan Stasiun Shinagawa di Tokyo dengan Nagoya di Prefektur Aichi, dengan kereta melaju hingga 500 kilometer per jam menggunakan teknologi levitasi magnetik.
Untuk mencapai kecepatan itu, hampir 90 persen jalur akan melintas di dalam terowongan. Jalur ini pada akhirnya akan diperpanjang hingga Osaka, dan waktu tempuhnya akan dipangkas menjadi hanya 67 menit.
Central Japan Railway Company, atau JR Central, mengatakan transportasi generasi berikutnya ini bukan hanya akan mempermudah perjalanan di antara tiga wilayah metropolitan utama Jepang, dengan perkiraan dampak ekonomi sedikitnya 18,6 triliun yen atau lebih dari 114 miliar dolar, tetapi juga akan menjadi alternatif bagi Shinkansen, yang rute pesisir Pasifiknya dinilai rentan terhadap gempa besar di sepanjang Palung Nankai.

Kebuntuan yang Berkepanjangan

JR Central semula ingin membuka ruas Shinagawa-Nagoya pada 2027, tetapi rencana itu menghadapi penolakan di Prefektur Shizuoka. Jalur ini akan melintasi prefektur itu, tetapi tidak memiliki stasiun di sana.
Selama bertahun-tahun, para pemimpin daerah menentang proyek itu karena khawatir aliran Sungai Oi akan menyusut drastis, padahal Sungai tersebut merupakan sumber air penting bagi rumah tangga, pertanian, dan pabrik. Perkiraan yang dirilis JR Central pada 2013 menunjukkan alirannya bisa berkurang hingga dua ton per detik.
Mantan Gubernur Shizuoka, Kawakatsu Heita, menolak memberi persetujuan bagi pembangunan jalur maglev di prefekturnya.

Kebuntuan itu mulai mereda setelah Suzuki Yasutomo terpilih sebagai gubernur Shizuoka pada 2024. Ia memulai dialog dengan JR Central, yang menanggapinya dengan menjanjikan kompensasi jika pekerjaan konstruksi berdampak pada sumber daya air, serta mengumumkan rencana menambah jumlah kereta Tokaido Shinkansen yang berhenti di stasiun-stasiun di prefektur tersebut.
Pada hari Selasa, Suzuki mengatakan ia akan menandatangani perjanjian pelestarian lingkungan dengan JR Central pada akhir bulan ini untuk membuka jalan bagi dimulainya konstruksi.

Pendapat yang Terbelah
Reaksi terhadap keputusan gubernur itu pun beragam.
Para pemimpin bisnis menyambut baik langkah tersebut. Ketua Kamar Dagang dan Industri Shizuoka, Kishida Hiroyuki, mengatakan peningkatan layanan Shinkansen akan membawa lebih banyak orang ke prefektur itu.
Namun, sebagian warga masih belum yakin. Pembuat sake Aoshima Takashi bekerja di dekat Sungai Oi dan khawatir berkurangnya aliran atau perubahan kualitas air akan memengaruhi produksinya. Ia meminta pemantauan jangka panjang atas dampaknya terhadap sumber daya air.

Para petani menyuarakan kekhawatiran serupa. Saito Katsuo menanam teh dan jeruk, yang menjadi sebagian produk khas Shizuoka, dan bergantung pada sungai itu untuk memenuhi kebutuhan hingga 21 ton air per hari. Ia mengatakan kecewa dengan keputusan tersebut dan mendesak JR Central mempertimbangkan mata pencaharian petani setempat.

Operasi Masih Beberapa Tahun Lagi

Lampu hijau itu tidak berarti kereta akan segera beroperasi. JR Central mengatakan pembangunan di Prefektur Shizuoka saja bisa memakan waktu lebih dari 10 tahun, sementara para insinyur harus dengan cermat melindungi sumber air Sungai Oi dan ekosistem rapuh di Pegunungan Alpen Jepang Selatan.
Perusahaan itu juga telah menghadapi hambatan di bagian lain sepanjang rute tersebut. Tahun lalu, sebuah jalan di Distrik Shinagawa, Tokyo, ambles di dekat lokasi penggalian terowongan.

Dua tahun sebelumnya, air tanah menyembur dari lokasi pembangunan terowongan di Kota Mizunami, Prefektur Gifu. Akibatnya, tanah turun dan sumur-sumur di sekitarnya mengering.
Biaya pembangunan juga melonjak tajam. Perkiraan JR Central untuk total biaya ruas Shinagawa hingga Nagoya hampir dua kali lipat sejak 2014, dari sekitar 5,5 triliun yen menjadi 11 triliun yen, seiring kenaikan biaya bahan dan tenaga kerja.
Namun, JR Central mengatakan tetap berkomitmen membuka jalur itu secepat mungkin.
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Versi Berita.Jepang.org
- Peran
- Kurasi, terjemahan, dan penyuntingan naskah.
- Pembaruan
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.
