Bea Cukai Jepang Perkuat Kerja Sama Global Perangi Lonjakan Barang Palsu
Meningkatnya transaksi e-commerce global memicu lonjakan peredaran barang palsu berbahaya seperti baterai yang rentan terbakar. Otoritas bea cukai Jepang kini membagikan keahlian teknisnya kepada petugas internasional untuk memutus rantai distribusi barang tiruan tersebut.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Bea Cukai Jepang Perkuat Kerja Sama Global Perangi Lonjakan Barang Palsu

Petugas bea cukai di seluruh dunia harus tetap waspada menghadapi ledakan e-commerce. Industri lintas batas ini mencatat nilai 1,24 triliun dolar tahun lalu, dan diproyeksikan melonjak hingga hampir 10 triliun dolar pada 2035.
Namun, derasnya arus barang juga membawa risiko maraknya barang palsu, mulai dari tas dan jam tangan hingga sepatu kets dan kamera.
Banyak orang tergiur harga murah. Padahal, harga yang terlampau rendah sering kali membahayakan. Baterai palsu adalah contoh nyata: produk ini biasanya tidak memenuhi standar keamanan dan berisiko terbakar.

Organisasi Bea Cukai Dunia berupaya menanggulangi masalah ini melalui kolaborasi dengan Universitas Aoyama Gakuin di Tokyo. Sejak 2011, mereka menyelenggarakan program tahunan guna membekali petugas dengan keahlian memberantas barang palsu secara efektif, dengan dukungan penuh dari Pemerintah Jepang.
Hingga kini, lebih dari 100 petugas telah menyelesaikan program tersebut. Peserta tahun ini datang dari Jamaika, Mongolia, Maladewa, Uganda, Malaysia, dan Bhutan.

Para peserta baru-baru ini mengunjungi kantor Bea Cukai Tokyo untuk melihat langsung pemanfaatan teknologi dalam mempercepat proses kerja. Sistem di sana mampu menganalisis data hasil pemindaian sinar-X, sehingga petugas dapat segera menentukan paket mana yang perlu dibongkar untuk diperiksa.
Sistem ini sangat efisien, ungkap Lam Dorji dari Bhutan. Ia merasa sistem semacam ini perlu ia bawa pulang untuk diterapkan di negaranya.
Upaya Tak Henti Jepang Melawan Pemalsuan

Para peserta pelatihan juga melihat berbagai barang yang disita petugas di Tokyo, termasuk tas mewah palsu, stiker 3 dimensi yang sedang tren di kalangan anak-anak, dan sepatu bermerek.
Kementerian Keuangan Jepang mencatat lebih dari 30.000 kasus dalam tiap tiga tahun fiskal terakhir. Biro Bea Cukai mengaitkan lonjakan ini dengan globalisasi dan pesatnya belanja daring.
Petugas mengungkapkan bahwa tantangan saat ini bukan lagi pengiriman massal ke pengecer, melainkan paket-paket kecil dalam jumlah besar yang dikirim langsung ke konsumen. Hal tersebut membuat pemeriksaan menjadi lebih sulit dan memakan waktu.
Bhutan Menimba Ilmu dari Tokyo
Situasi di wilayah Asia lainnya bisa jauh lebih menantang. Dorji menyebut Bhutan sangat bergantung pada impor, sementara beberapa negara tetangga menjadi sumber utama produk palsu.

Dorji mengungkapkan bahwa penerapan langkah-langkah terbaru di Bhutan akan lebih sulit dibandingkan di negara-negara maju. Namun, ia yakin teknologi canggih dari Tokyo dapat memperkuat sistem pemeriksaan bea cukai di negaranya.
Ia pun menekankan pentingnya kerja sama luas antara instansi pemerintah dan pelaku bisnis, seperti yang ia saksikan di Tokyo.
Saya sangat tertarik pada efektivitas prosedur bea cukai, aturan asal barang, serta sistem harmonisasi yang diterapkan negara-negara maju seperti Jepang.
Keterlibatan Perusahaan Besar
Para peserta program baru-baru ini mengunjungi kantor pusat Canon di Tokyo. Produsen peralatan presisi asal Jepang tersebut sering kali mendapati produk kartrid tinta dan barang elektronik mereka dipalsukan.
Guna mengatasi masalah ini, pihak perusahaan telah menciptakan hologram khusus untuk menjamin keaslian produk. Saat dimiringkan, label tersebut akan menampilkan kata 'asli'.

Para peserta berkesempatan melihat langsung berbagai produk palsu yang dikumpulkan oleh Canon. Perusahaan ini secara rutin memantau platform e-commerce dan melaporkan aktivitas penipuan kepada pihak berwenang.
'Cara tercepat untuk menghentikan peredaran barang palsu adalah dengan mengidentifikasi produsen di sumbernya dan membantu polisi menindak mereka,' ujar Toyoda Jin, pejabat senior bidang hukum dan kekayaan intelektual di Canon.

Canon bahkan telah mengembangkan serangkaian alat untuk mengidentifikasi barang palsu dan melaporkannya ke otoritas bea cukai mancanegara. Upaya ini telah mendukung operasi penegakan hukum di lebih dari 60 negara dan wilayah.

Dorji merasa terkesan. 'Ini bukan sekadar soal mampu membeli teknologinya. Sangat penting bagi petugas perbatasan, perusahaan, dan polisi untuk saling bekerja sama.'
Bagaimanapun, jika jutaan barang dapat melintasi dunia setiap hari, teknik terbaik untuk menghalau produk palsu pun seharusnya bisa disebarluaskan dengan cara yang sama.
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Versi Berita.Jepang.org
- Peran
- Kurasi, terjemahan, dan penyuntingan naskah.
- Pembaruan
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.