Jepang Sukses Menghapus Penularan Endemik Rubella
Jepang telah mencapai tonggak sejarah kesehatan dengan diakuinya eliminasi penularan endemik rubella oleh WHO. Keberhasilan ini merupakan hasil upaya imunisasi yang digerakkan oleh pemerintah dan permohonan para wanita yang anaknya terdampak virus tersebut.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Jepang Sukses Menghapus Penularan Endemik Rubella

Risiko Sindrom Rubella Kongenital

Sindrom Rubella Kongenital dapat menyebabkan cacat lahir seperti kelainan jantung, gangguan pendengaran, dan katarak, dengan risiko tertinggi pada bulan-bulan awal kehamilan.
Masalah utama adalah sekitar sepertiga orang yang terinfeksi rubella tidak menunjukkan gejala, sehingga dapat menularkan virus tanpa disadari kepada wanita hamil, menempatkan bayi dalam risiko serius.
Karena kaitannya dengan kehamilan, upaya imunisasi di Jepang awalnya hanya difokuskan pada wanita.
Akibatnya, banyak pria tidak divaksinasi, yang kemudian berperan dalam penyebaran penyakit.
Dampak dari hal ini terlihat jelas saat epidemi rubella antara 2012 dan 2013.
Selama periode itu, 45 bayi didiagnosis menderita Sindrom Rubella Kongenital, dan tragisnya, 11 di antaranya meninggal sebelum usia 15 bulan.
Vaksinasi tetap diakui sebagai langkah pencegahan yang paling efektif.
Perjuangan Seorang Ibu untuk Vaksinasi

Kani Kayo, 71 tahun, tinggal di Prefektur Gifu. Ia sangat memahami risiko rubela karena terinfeksi saat mengandung putrinya, Taeko.
Taeko lahir dengan Sindrom Rubela Kongenital. Ia mengalami gangguan serius pada mata, telinga, dan jantung, dan meninggal pada usia 18 tahun.

Beberapa jam sebelum meninggal, ia menulis pesan terakhir untuk orang tuanya: Ayah, Ibu, aku sudah berjuang sekuat tenaga.
Kani kemudian menjadi advokat vaksinasi yang gigih, berharap dapat mencegah orang lain mengalami penderitaan yang dialami keluarganya.
Pesan itu telah menjadi sumber kekuatan bagi kami, kata Kani. Kami merasa harus memberikan yang terbaik, sama seperti yang ia lakukan, dan itulah yang membuat kami terus maju.

Pada 2013, Kani mendirikan asosiasi orang tua yang membesarkan anak-anak dengan disabilitas akibat rubella, dan mereka mulai menyuarakan pesan tersebut ke publik. Ia sendiri terus menyerukan: Ayo vaksinasi! Ayo vaksinasi!
Kani menekankan upaya mendorong laki-laki untuk mendapatkan imunisasi. Banyak dari mereka tidak termasuk dalam program vaksinasi semasa kecil dan mungkin tidak menyadari bahwa mereka bisa menularkan risiko kepada orang lain. Ia menyebutkan sekitar 80 persen pasien selama wabah sebelumnya adalah laki-laki.
Jika lebih banyak laki-laki divaksinasi, mereka dapat membantu melindungi ibu hamil di sekitarnya.
Upaya meningkatkan kesadaran itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 2019, Jepang mulai menerapkan langkah-langkah seperti tes antibodi gratis dan vaksinasi rubella bagi laki-laki yang belum memiliki kekebalan cukup.

Hasilnya, jumlah infeksi di seluruh negeri menurun drastis.
Pada 2013, terdapat lebih dari 14.000 kasus. Namun pada 2021, jumlahnya tinggal 10.
Pada 2025, WHO secara resmi menyatakan rubella telah tereliminasi di Jepang.
Kani mengaku sangat bahagia, namun ia tetap menekankan pentingnya vaksinasi.
Rubella memang telah tereliminasi untuk saat ini, tetapi virus ini masih bisa masuk dari luar negeri, ujarnya.
Jika virus ini kembali menyebar, kita bisa menghadapi wabah baru dan lebih banyak anak lahir dengan Sindrom Rubella Kongenital. Itulah sebabnya saya ingin terus menyebarkan informasi ini.
Wabah Rubella Masih Berlangsung di Beberapa Negara
Takashima Yoshihiro, Profesor Penunjukan Khusus di Universitas Osaka, pernah memimpin program Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Ia menyebutkan bahwa sejak 2010, berbagai negara bekerja sama dengan WHO untuk mengeliminasi rubella.
Namun ia menambahkan, puluhan hingga ratusan kasus Sindrom Rubella Kongenital masih dilaporkan setiap tahun di banyak negara. Dampak pandemi COVID-19 antara 2020 dan 2023 menyebabkan cakupan vaksinasi rutin anak menurun di banyak tempat.
Akibatnya, katanya, wabah rubella skala besar bisa terjadi lagi di masa depan. Secara global, risiko bagi ibu hamil dan bayi mereka tetap ada.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.

