Lewati ke konten utama
Berita.Jepang.org

AI Ubah Cara Dunia Meramal Topan dan Cuaca Ekstrem

Kecerdasan buatan kini menjadi senjata baru bagi para ahli meteorologi dalam menghadapi perubahan iklim dan bencana alam. Teknologi ini sudah membantu memprediksi jalur topan, dan para ahli menilai akurasinya masih akan terus meningkat.

NHK WORLD3 mnt

Bagikan Artikel

Ilustrasi jalur topan dengan analisis data AI pada peta cuaca

Visual Utama

AI Ubah Cara Dunia Meramal Topan dan Cuaca Ekstrem

Tutup
Ilustrasi jalur topan dengan analisis data AI pada peta cuaca

Berbeda dengan prakirawan cuaca manusia, AI dapat bekerja di mana saja, setiap hari, kapan saja, kata Eun Jeong-cha, pejabat Administrasi Meteorologi Korea Selatan, saat berbicara di atas panggung bulan lalu.

Ahli meteorologi Korea Selatan, Eun Jeong-cha, berbicara bulan lalu di Yokohama.
Ahli meteorologi Korea Selatan, Eun Jeong-cha, berbicara bulan lalu di Yokohama.

Eun berbicara dalam Workshop Internasional Pusat Penelitian Sains dan Teknologi Topan. Sekitar 200 orang dari berbagai negara menghadiri acara itu di Yokohama, di sebelah selatan Tokyo.

Kemajuan Akurasi yang Pesat

Namun, AI menawarkan lebih dari sekadar kemampuan bekerja tanpa henti. Banyak ahli mengatakan teknologi ini telah menjadi sangat andal dalam meramalkan topan. Di dunia yang semakin sering dilanda cuaca ekstrem, teknologi ini bisa menjadi penentu antara hidup dan mati.

Workshop Internasional Pusat Penelitian Sains dan Teknologi Topan digelar pada 21-22 Oktober.
Workshop Internasional Pusat Penelitian Sains dan Teknologi Topan digelar pada 21-22 Oktober.

Metode prakiraan cuaca yang umum digunakan, termasuk oleh Badan Meteorologi Jepang, menggabungkan superkomputer dengan fisika serta kondisi dunia nyata seperti suhu, tekanan atmosfer, dan kecepatan angin.

Namun, AI juga memanfaatkan data dalam jumlah sangat besar, yang sering kali mencakup rentang hingga puluhan tahun ke belakang. Seiring kemajuan teknologi, prediksi yang dihasilkannya pun semakin akurat.

Topan Halong, yang melanda Jepang dengan hujan lebat pada Oktober, menjadi salah satu contoh nyatanya. Model AI milik Google DeepMind mampu memprediksi jalur badai itu dengan lebih akurat dibandingkan Badan Meteorologi Jepang.

AI Ubah Cara Dunia Meramal Topan dan Cuaca Ekstrem - visual artikel

Yamaguchi Munehiko, pejabat senior di Institut Penelitian Meteorologi Badan Meteorologi Jepang, melihat manfaat nyata dari penggunaan teknologi ini. Ia mengatakan sistem AI bekerja lebih baik daripada model konvensional dalam memprediksi jalur 64 topan pada 2021 hingga 2023.

Yamaguchi Munehiko adalah bagian dari Institut Penelitian Meteorologi Badan Meteorologi Jepang.
Yamaguchi Munehiko adalah bagian dari Institut Penelitian Meteorologi Badan Meteorologi Jepang.

Saya benar-benar terkejut. Kami tidak punya pilihan selain mempertimbangkan cara memanfaatkan AI.

Pemerintah Jepang menaruh perhatian serius pada hal ini. Ada rencana merekrut sekitar 30 pengembang pada tahun fiskal mendatang untuk menciptakan model AI bagi Badan Meteorologi Jepang.

Waktu terus berjalan, karena apa yang tampak sebagai awal pergeseran ini bisa berubah menjadi persaingan sengit. Yamaguchi memperkirakan persaingan internasional yang intens dalam memprediksi jalur topan akan terjadi.

Uni Eropa Juga Bergerak

Sejumlah rekan sejawatnya di negara lain juga sudah melangkah lebih jauh. Para pejabat di Pusat Prakiraan Cuaca Jarak Menengah Eropa meluncurkan model AI mereka sendiri pada Februari. Mereka juga menyediakan prakiraan cuaca terbaru dari beberapa nama besar di industri tersebut.

Pejabat DeepMind Ferran Alet yakin model AI akan segera menjadi bagian tetap dari alur kerja prakiraan cuaca.

Saya yakin model-model itu akan terus membesar, menyerap lebih banyak data, dan mungkin juga memprediksi lebih banyak hal, ujarnya. Saya memperkirakan dalam beberapa tahun ke depan, prediksi yang kita buat sekarang akan menjadi bagian rutin dari informasi yang siap diakses para prakirawan.

Ferran Alet adalah ilmuwan peneliti di Google DeepMind.
Ferran Alet adalah ilmuwan peneliti di Google DeepMind.

Teknologi Baru Bukannya tanpa Kelemahan

Meski demikian, AI sama sekali tidak sempurna. Teknologi ini terutama masih kesulitan memprakirakan intensitas topan, kata koresponden senior NHK, Shimakawa Eisuke, seraya menambahkan bahwa ada pula pertanyaan etis tentang siapa yang bertanggung jawab ketika prediksi meleset jauh.

Shimakawa menunjuk Topan Peipah yang melanda Jepang pada September. Sebuah model AI memprediksi badai itu akan menghantam langsung Osaka, tetapi kenyataannya lintasannya bergerak lebih jauh ke selatan, katanya.

Tidak seperti pejabat JMA, model AI Tidak dapat menganalisis mengapa prediksinya keliru. Dan itu menjadi persoalan besar dalam hal pertanggungjawaban.

Lalu, apa langkah terbaik berikutnya? Shimakawa mengatakan banyak pakar prakiraan cuaca meyakini bahwa peran terbaik AI kemungkinan besar adalah melengkapi pekerjaan yang sudah dilakukan manusia.

Shimakawa Eisuke dari NHK membahas penggunaan AI untuk prakiraan cuaca pada 21 November.

Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB

Sumber Berita

Penerbit
NHK WORLD
Tanggal Sumber
Pranala Sumber

Video Sumber

Dengarkan Artikel

Putar versi audio langsung dari browser Anda.

Menyiapkan audio browser...

Kata Kunci

Jejak Topik

Komentar Pembaca

Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.