80 Tahun Pertempuran Okinawa: Perjuangan Gushiken Takamatsu Mencari Ribuan Korban yang Masih Hilang
Delapan dekade setelah Pertempuran Okinawa, Gushiken Takamatsu terus menyisir hutan untuk menemukan sisa jenazah dan barang peninggalan ribuan korban yang belum ditemukan. Upaya ini dilakukan demi mengembalikan identitas para korban kepada keluarga yang ditinggalkan sejak tahun 1945.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
80 Tahun Pertempuran Okinawa: Perjuangan Gushiken Takamatsu Mencari Ribuan Korban yang Masih Hilang

*Peringatan konten: Artikel dan video berikut menampilkan gambar sisa jenazah manusia.
Gushiken Takamatsu selalu tahu bahwa hutan Okinawa menyimpan sisa jenazah korban perang yang menanti untuk ditemukan. Ia menemukan tulang pertamanya saat masih kecil di dekat rumahnya di Naha.

Kini berusia 71 tahun, Gushiken telah menghabiskan puluhan tahun mencari mereka yang tertinggal dalam salah satu pertempuran paling mematikan di Perang Dunia Kedua. Lebih dari 200.000 orang gugur dalam Pertempuran Okinawa tahun 1945, dan pemerintah prefektur memperkirakan lebih dari 2.500 orang masih hilang.
Selama bertahun-tahun, Gushiken bekerja sendirian. Hingga pada 1983, ia mendirikan kelompok sukarelawan Gamafuya, yang dalam dialek lokal berarti 'orang-orang yang menggali di dalam gua'. Sejak saat itu, organisasi tersebut telah menemukan tulang belulang dari sekitar 300 hingga 400 orang.
Sekali atau dua kali sebulan, ia menjelajahi hutan di dekat Kota Itoman, yang merupakan medan tempur terakhir dalam konflik tersebut.

Gushiken menuturkan bahwa awalnya ia heran mengapa pihak keluarga tidak menjemput sendiri jenazah tersebut. Namun, ia menyadari bahwa sisa-sisa jenazah para korban telah bercampur baur, sehingga nyaris mustahil untuk mengidentifikasi kerabat mereka.
Menyatukan kembali para korban dengan keluarga mereka menjadi misi utama Gushiken.

Saya merasa jasad-jasad ini sangat ingin pulang ke pelukan ibu mereka. Jika mungkin, saya ingin mengabulkan keinginan terakhir mereka, tuturnya.
Hilang Selamanya
Setelah perang usai, militer Amerika Serikat membangun puluhan pangkalan militer di seantero Okinawa.
Kini, rencana kontroversial relokasi Pangkalan Udara Futenma ke lahan reklamasi di lepas pantai distrik Henoko, Nago, mengancam keberadaan jasad-jasad tersebut. Pasalnya, tanah untuk proyek reklamasi diambil dari lokasi yang dulunya merupakan medan pertempuran.
Meski jasad utuh akan dikembalikan kepada keluarga, Gushiken menegaskan bahwa fragmen tulang sekecil apa pun yang tidak teridentifikasi tidak boleh dibuang begitu saja.

Tempat ini harus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai situs peringatan—sebuah tempat untuk merenungi perang dan perdamaian, ujarnya. Kami ingin melestarikannya sebagai situs Warisan Perdamaian Dunia.
Pencarian Saudari yang Telah Lama Hilang
Bagi Kobashigawa Tomoyuki yang kini berusia 82 tahun, kehilangan tersebut terasa sangat personal dan pedih. Kakak perempuannya, Michiko, gugur dalam pertempuran pada usia 19 tahun, sementara ia sendiri baru berusia 2 tahun saat itu.
Ia bahkan baru mengetahui keberadaan sang kakak delapan tahun yang lalu.

Orang tuanya tidak pernah membicarakan hal itu. Demi menata kembali hidup usai perang, mereka mengubur dalam-dalam kenangan tentang Michiko.
Kobashigawa baru mengetahui bahwa ia memiliki seorang kakak perempuan setelah saudara laki-lakinya mengungkap kebenaran tersebut delapan tahun yang lalu.
'Aku ingin dia tetap hidup,' katanya. 'Aku hanya ingin mendekapnya erat.'

Ia mendoakannya setiap tahun di Cornerstone of Peace, monumen bagi para korban tewas di Taman Peringatan Perdamaian Prefektur Okinawa di Itoman. Nama yang terukir di dinding monumen tersebut menjadi satu-satunya kenangan yang ia miliki tentang saudaranya.
Kobashigawa merasa yakin bahwa menemukan Michiko adalah tugasnya sebelum hayatnya berakhir. Ia baru-baru ini menyerahkan sampel DNA ke Kementerian Kesehatan Jepang dengan harapan jasad saudaranya dapat ditemukan.
'Suatu hari nanti, saat aku menemukannya, aku akan berkata: Kamu pasti sudah sangat menderita. Kamu pasti merasakan sakit dan kesedihan yang luar biasa, tapi sekarang semuanya sudah baik-baik saja.' Jika tidak, ia tidak akan bisa merasa tenang. Rasanya seolah-olah ia selalu memikul beban berat di hati.

Tahun lalu, Kementerian Pertahanan Jepang menempatkan sistem rudal darat-ke-kapal di sebuah pangkalan dekat kediamannya di Kota Uruma. Ia melihat perkembangan ini sebagai gema masa lalu, sekaligus pertanda bagi masa depan.
Kobashigawa menuturkan: 'Rudal kini ditempatkan di dekat tempat tinggalku. Rasanya seolah-olah perang baru telah dimulai. Banyak orang di Okinawa kehilangan nyawa, dan kami masih mencari sisa-sisa jasad mereka. Sekarang aku khawatir anak dan cucuku akan menjadi korban perang.'
Sisi Kemanusiaan
Pemerintah Prefektur Okinawa memberikan subsidi kepada organisasi pencari korban hilang, sementara pemerintah pusat turut mengerahkan tim pencari. Namun, sebagian besar pekerjaan ini justru dilakukan oleh para relawan seperti Gushiken.
Apa yang membuatnya terus melangkah?
Seandainya saya berada di posisi mereka, saya pun ingin ada orang yang menolong. Saya adalah manusia yang sama dengan mereka yang gugur di sini. Itulah sebabnya saya melakukan apa pun yang saya bisa, tuturnya.

Gushiken yakin masa lalu harus diakui, bukan ditutup-tutupi. Hanya dengan cara itulah, sejarah dapat menjadi peringatan.
Saya ingin orang-orang memahami hakikat perang yang sesungguhnya—bahwa perang berarti membunuh dan dibunuh. Saya ingin mereka melihat kenyataan para korban dan menyadari mengapa hal ini tidak boleh terulang kembali, ujarnya.
Saya berharap generasi muda yang tidak pernah mengalami perang akan bisa memahaminya.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.
