Ancaman Tabrakan Burung: Jepang Tetapkan Bebek Baikal Teal sebagai Bahaya Utama Penerbangan
Jepang resmi menetapkan bebek Baikal teal sebagai spesies berbahaya bagi pesawat jet menyusul kecelakaan fatal di Korea Selatan yang menewaskan 179 orang tahun lalu. Bandara di seluruh negeri kini didesak untuk memperketat langkah pencegahan terhadap ancaman kawanan besar burung tersebut.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Ancaman Tabrakan Burung: Jepang Tetapkan Bebek Baikal Teal sebagai Bahaya Utama Penerbangan


Pesawat penumpang Jeju Air terbakar usai melakukan pendaratan darurat tanpa roda. Tragedi di Bandara Internasional Muan pada Desember itu merenggut 179 nyawa.
Penyelidik menyimpulkan bahwa insiden tersebut dipicu oleh tabrakan burung setelah menemukan bercak darah dan bulu bebek Baikal teal pada kedua mesin pesawat.
Sumber di Kementerian Transportasi Jepang menyatakan bahwa panel ahli telah menetapkan bebek tersebut sebagai spesies berbahaya pada bulan Maret.
Sejak saat itu, pihak berwenang meminta 107 bandara dan helipad di seluruh penjuru negeri untuk segera melakukan langkah pencegahan terhadap spesies tersebut.
Status Terancam Punah yang Berisiko Bahaya

Bebek Baikal berkembang biak di Rusia dan bermigrasi ke Semenanjung Korea, Tiongkok, serta Jepang selama musim dingin. Spesies ini termasuk jenis bebek yang relatif berat dengan panjang tubuh mencapai 40 sentimeter. Saat dewasa, beratnya berkisar 400 gram dengan bentang sayap kurang lebih 70 sentimeter.

Burung-burung ini terbang dalam kelompok masif yang terkadang mencapai lebih dari 100.000 ekor.
Pemerintah Jepang mengategorikan bebek Baikal sebagai spesies terancam punah, meski penampakannya kian sering. Survei Kementerian Lingkungan Hidup setiap Januari menunjukkan populasinya melonjak dari 22.006 menjadi 147.313 antara tahun fiskal 2020 dan 2024.
Nyaris Celaka di Jepang

Kementerian Transportasi memantau insiden tabrakan burung secara nasional sejak 2011, dan sejauh ini belum ada yang mengakibatkan kecelakaan pesawat.
Namun, otoritas sangat mengkhawatirkan Bandara Izumo di Prefektur Shimane, tempat kawanan besar bebek Baikal rutin terbang melintasi landasan pacu.
Pada Januari 2024, tiga ekor bebek menabrak pesawat yang baru mendarat dari Bandara Haneda, Tokyo. Kerusakan pada sayap kanan dan bagian lainnya memaksa maskapai membatalkan penerbangan kembali.
'Keajaiban di Sungai Hudson'

Insiden tabrakan burung pernah menjadi tajuk berita global. Pada Januari 2009, pesawat penumpang US Airways menabrak kawanan angsa sesaat setelah lepas landas dari New York. Meski kedua mesin mati, pesawat berhasil melakukan pendaratan darurat di Sungai Hudson, dan seluruh 155 penumpang serta kru dinyatakan selamat.
Pakar Desak Langkah Segera

Namun, batas antara keajaiban dan tragedi sangatlah tipis. Seorang pakar memperingatkan bahwa Jepang harus mengambil langkah pencegahan sebelum terlambat.
Bebek Baikal teal tak diragukan lagi adalah salah satu spesies burung paling berbahaya bagi penerbangan, ungkap Profesor Emeritus Universitas Tokyo, Higuchi Hiroyoshi.
Begitu tabrakan terjadi, risiko burung lain menabrak pesawat secara beruntun sangat tinggi, yang berpotensi memicu kecelakaan serius, tuturnya.
Higuchi menunjukkan bahwa bebek-bebek ini bermigrasi ke lebih banyak wilayah di penjuru negeri. Ia menekankan bahwa setiap bandara harus memahami karakteristik Baikal teal, mengevaluasi lingkungan sekitar, dan segera menerapkan langkah pencegahan.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.