Startup Jepang Manfaatkan Drone dan AI untuk Melawan Malaria
Perubahan iklim memperumit perlawanan terhadap malaria, yang menewaskan lebih dari setengah juta orang setiap tahun. Startup Jepang Sora Technology memanfaatkan drone dan kecerdasan buatan untuk menandai titik rawan potensial dan membasmi penyakit bawaan nyamuk sejak dini.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Startup Jepang Manfaatkan Drone dan AI untuk Melawan Malaria

Malaria terkenal sulit dilawan. Diperkirakan ada 282 juta kasus dan 610.000 kematian pada 2024, sebagian besar di Afrika.
Pertahanan yang paling umum, yaitu kelambu dan semprotan, juga termasuk yang paling sederhana. Eksekutif Sora Technology Umeda Masaki yakin upaya memberantas penyakit ini butuh lebih banyak teknologi.

Umeda berbicara di United Nations Science, Technology and Innovation Forum di New York pada Mei. Sora Technology, startup Jepang, diundang sebagai inovator unggulan.
AI kami mengidentifikasi titik rawan berisiko tinggi, katanya. Tidak hanya untuk bencana iklim seperti banjir, tetapi juga penyakit menular yang peka terhadap iklim seperti malaria, demam berdarah, kolera, dan lainnya.

Perusahaan Jepang Melesat di Afrika
Umeda mengatakan negara-negara Afrika sangat membutuhkan solusi. Mereka kesulitan dan mencari inovasi agar biaya lebih efisien.
Sora Technology mengadopsi strategi yang disebut Larval Source Management. Tujuannya mengurangi populasi nyamuk dengan menyerang langsung perairan tempat larva berkembang.
Perusahaan ini memakai drone berbekal kamera dan sensor untuk mengambil gambar rinci genangan dan perairan. AI kemudian menganalisis data itu guna mendeteksi tempat nyamuk berpotensi berkembang biak.

Metode perusahaan ini berhasil menemukan perairan yang sebelumnya jauh lebih sulit ditemukan. Penyemprotan larvisida di area berisiko tinggi dengan drone kini jauh lebih mudah.
Negara yang Kesulitan Ingin Berkolaborasi
Sora Technology menjadi pelopor pengendalian malaria dengan mengintegrasikan deteksi lokasi perkembangbiakan nyamuk berbasis AI, pemetaan geospasial, dan aplikasi larvisida lewat drone dalam satu platform.
Uji lapangan bersama Japan International Cooperation Agency, atau JICA, menunjukkan bahwa Sora Technology dapat memangkas penggunaan bahan kimia maupun biaya tenaga kerja hingga sekitar separuh.

Lebih dari 10 negara Afrika, termasuk Ghana dan Mozambik, kini bekerja sama dengan startup itu untuk memerangi malaria.
Kami mampu mengurangi penggunaan larvisida hingga 50 persen, kata Dr. Paul Hilarius Asiwome Kosi Abiwu dari National Malaria Elimination Programme Ghana.
Ini merupakan penghematan besar dari sisi biaya dan efisiensi. Ketika Anda tahu secara tepat di mana lokasi perkembangbiakan berada, Anda tidak perlu berkeliling dengan tenaga manusia untuk mencari tempat yang harus disasar, katanya.

Perbedaan Budaya Jadi Tantangan
Pada saat yang sama, masih banyak tantangan yang harus diatasi. Umeda mengatakan bahwa kesadaran tentang drone masih terbatas di wilayah pedesaan di benua itu, dan membangun kepercayaan masyarakat akan menjadi hal yang penting.
Dia juga menekankan perlunya beradaptasi dengan praktik bisnis yang berbeda di Afrika. Sora Technology melatih staf lokal dan bekerja sama dengan pemerintah di negara-negara tempat perusahaan itu beroperasi. Salah satu prinsip terpenting di tim kami adalah lokalisasi, katanya.

Umeda membahas poin-poin ini pada Juni, saat berbicara di simposium internasional tentang risiko bencana terkait air di Tokyo. Menurutnya, teknologi hanya efektif jika diintegrasikan ke dalam operasi dan kebijakan di dunia nyata.
Dan tidak hanya di Afrika. Umeda kini ingin membawa model bisnis Sora Technology ke Asia Tenggara dan Amerika Latin. Bagaimanapun, penyakit yang ditularkan nyamuk mudah menjadi ancaman bagi dunia yang lebih luas.
Nyamuk tidak peduli dengan batas negara, katanya. Mereka dapat dengan mudah terbang ke dunia maju dalam waktu dekat karena perubahan iklim. Penting untuk memandang ini sebagai masalah kesehatan global.
Dan ia berencana bertindak cepat. Kami benar-benar ingin berkomitmen kuat untuk memberantas malaria pada 2030, katanya.

Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Versi Berita.Jepang.org
- Peran
- Kurasi, terjemahan, dan penyuntingan naskah.
- Pembaruan
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.