Sassen, Olahraga Pedang Berteknologi Tinggi yang Terinspirasi Samurai, Rayakan Ulang Tahun Ke-10
Olahraga pedang Sassen memadukan duel ala samurai dengan sensor pada pedang busa. Setelah 10 tahun berkembang di Jepang, olahraga ini mulai menarik minat pemain dari berbagai usia dan negara.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Sassen, Olahraga Pedang Berteknologi Tinggi yang Terinspirasi Samurai, Rayakan Ulang Tahun Ke-10

Apa Itu Sassen?
Sassen adalah konsep menikmati duel pedang yang serius dengan aman. Di Jepang, banyak anak dulu bermain Chanbara, istilah dalam bahasa Jepang untuk pertarungan pedang. Sassen lahir sebagai versi modern dari Chanbara.
Dalam Sassen, para pemain saling berhadapan dengan pedang menyala yang terbuat dari busa polietilena. Sensor bawaan langsung mendeteksi apakah seorang pemain berhasil mengenai tubuh lawannya. Jika itu terjadi, hasilnya segera tercatat dan ditampilkan di papan skor.

Pertandingan berlangsung selama satu menit atau sampai salah satu pemain mencetak dua poin. Jika imbang, permainan berlanjut sampai ada poin yang tercipta.
Motomura Ryuma adalah salah satu pencipta Sassen. Ia mengatakan bahwa tujuannya adalah menciptakan olahraga baru yang aman, bisa dinikmati semua generasi, dan membuat peserta merasa penilaiannya berlangsung adil. Motomura meminta bantuan seorang insinyur untuk mewujudkan gagasan itu.

Menurut Motomura, Sassen bisa membawa kegembiraan dan senyuman bagi siapa saja. Pedangnya aman digunakan, tetapi tetap menghadirkan rasa persaingan yang serius.
Kian Populer di Jepang
Sejak debut pada 2016, Sassen perlahan makin populer di berbagai daerah di Jepang. Mei lalu, puluhan orang memadati sebuah pusat perbelanjaan di Tokyo, menyaksikan olahraga ini dari dekat, lalu mencobanya sendiri.

Seorang peserta perempuan berkata bahwa begitu mulai terengah-engah, permainan biasanya langsung berakhir karena durasi pertandingannya singkat. Jadi, olahraga ini tidak terlalu menguras tenaga. Menurutnya, anak-anak maupun orang dewasa sama-sama bisa menikmatinya.
Seorang peserta laki-laki menilai masih ada ruang untuk perbaikan. Ia mengatakan bahwa sensitivitas sensornya terkadang masih kurang. Namun, jika masalah itu teratasi, permainan ini bisa menjadi jauh lebih menyenangkan.
Mengubah Hidup

Di Prefektur Saitama, yang berbatasan dengan Tokyo, kelas Sassen diadakan dua kali sebulan dan diikuti enam siswa sekolah dasar.

Yamagishi Sosuke adalah salah satunya, dan ia mengatakan hidupnya berubah berkat olahraga ini. Dulu ia pemalu, tertutup, dan tidak tertarik pada olahraga. Namun, Sassen terasa berbeda, dan ia langsung terpikat.
Ia menjelaskan: Mengayunkan pedang terlihat sangat keren. Rasanya juga sangat seru, jadi saya ingin mencobanya.

Seiring terus bermain, Yamagishi merasa olahraga ini membantunya menjadi lebih terbuka. Ia mengatakan, Dulu saya pendiam, tetapi sekarang saya merasa nyaman berbicara, dan kepribadian saya menjadi lebih ceria.
Yamagishi menambahkan, Terkadang saya merasa kecewa saat kalah. Namun, setelah itu saya menenangkan diri, menganalisis apa yang terjadi, lalu berlatih lebih giat.

Orang tuanya terkejut ketika ia memberi tahu mereka bahwa ia ingin bermain Sassen. Ibunya, Maki, mengatakan bahwa ia sempat bertanya kepada putranya apakah hal itu benar-benar bisa dilakukan saat mereka menggunakan pedang.
Ia menambahkan, kini mereka sangat senang karena bisa melihat betapa besar perkembangan Sosuke lewat olahraga ini.
Turnamen Nasional Terbesar
Popularitas Sassen yang terus meningkat di Jepang terlihat jelas dalam turnamen kejuaraan nasional tahun ini di Tokyo. Penyelenggara mulai menggelar acara ini empat tahun lalu, dan kali ini menjadi yang terbesar sejauh ini.
Sekitar 100 orang ikut ambil bagian, jumlah terbanyak sejak turnamen itu mulai digelar. Sebagian peserta datang dari wilayah Kyushu yang berjarak lebih dari 800 kilometer.

Salah satu peserta mengatakan bahwa ia sudah terpikat pada olahraga ini. Ia tidak rutin berolahraga dan masih belum mahir dalam Sassen, tetapi tetap ingin menekuninya.

Seorang pelajar asing asal Meksiko terkesan dengan apa yang dilihatnya di turnamen itu. Ia mengatakan bahwa suasananya luar biasa, sangat penuh semangat, dan sangat seru. Ia menambahkan bahwa lain kali mungkin ia juga akan turun ke arena. Ia berharap orang-orang dari seluruh dunia akan mengenal olahraga ini.
Puncak Prestasi
Yamagishi Sosuke juga bertanding di divisi anak-anak dalam turnamen itu, dengan target menjadi juara pada tahun terakhir masa kelayakannya. Ia berjuang melewati persaingan dan mempertahankan catatan sempurna hingga final.

Semua itu memuncak dalam duel final. Yamagishi dan lawannya sama kuat dengan masing-masing satu poin, tetapi ia melihat celah dalam pertahanan lawannya, lalu segera bergerak dan memastikan gelar juara.

Setelah pertandingan, ia berkata bahwa dirinya sangat senang. Ia selalu finis di posisi kedua atau ketiga, jadi ia sangat senang akhirnya bisa meraih juara pertama untuk pertama kalinya.
Masa Depan Sassen
Seiring upaya olahraga ini memperluas jangkauannya, Sassen bergerak ke beberapa arah yang menarik.

Sejumlah panti wreda di Jepang telah menjadikan Sassen sebagai kegiatan rekreasi bagi para lansia.
Kini, ada pula variasi bernama Cyber Kassen, yang dirancang untuk dimainkan oleh kelompok besar. Sejumlah sekolah di Jepang telah memperkenalkannya sebagai sarana belajar untuk mengajarkan kerja sama tim.

Sejumlah perusahaan juga telah mencoba Cyber Kassen sebagai kegiatan pembentukan tim bagi rekan kerja.
Menjangkau Luar Negeri
Walau sejauh ini Sassen sebagian besar masih terbatas di Jepang, kabar tentang olahraga ini tampaknya mulai menyebar ke luar negeri. Sebuah acara pada 2023 di Vietnam menarik sekitar 850 peserta.
Motomura juga kadang menerima pesan dari orang-orang di luar negeri. Ia mengatakan mereka tertarik pada olahraga ini setelah mendengarnya dari teman Jepang yang tinggal di negara mereka.
Motomura ingin pesona Sassen menjangkau lebih banyak warga asing, baik yang tinggal di Jepang maupun di luar negeri. Aturan permainannya sangat sederhana, dan menurutnya siapa pun di dunia bisa mempelajarinya dengan cepat.
Karena budaya samurai Jepang sudah terkenal di seluruh dunia, mudah dipahami mengapa sentuhan digital modern ini punya daya tarik internasional. Namun, versi futuristis dari budaya pejuang kuno Jepang ini adalah sesuatu yang tak pernah bisa dibayangkan oleh samurai mana pun.
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Versi Berita.Jepang.org
- Peran
- Kurasi, terjemahan, dan penyuntingan naskah.
- Pembaruan
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.