Masyarakat Super-Lansia, Thailand Bersiap Hadapi Krisis Demografi

Thailand adalah salah satu dari sejumlah negara Asia yang menghadapi guncangan populasi. Negara ini berubah dari pertumbuhan eksplosif menjadi tingkat kelahiran yang anjlok dan masyarakat yang semakin menua. Pada tahun 2022, diperkirakan 14 persen populasi Thailand berusia setidaknya 65 tahun. Pada awal 2030-an, angka tersebut diproyeksikan melebihi 21 persen, ambang batas untuk apa yang disebut “masyarakat super-lansia” (super-aged society).
Perubahan ini terjadi jauh lebih cepat daripada di negara-negara maju seperti Jepang dan negara-negara Eropa. Thailand kini bergegas meningkatkan layanan dan sistem perawatan lansia untuk menghadapi pergeseran demografis yang dramatis ini.
Dream Nursing Home berjarak sekitar 30 menit berkendara dari pusat Bangkok. Fasilitas ini dibuka 3 tahun lalu oleh seorang pengusaha Jepang dan mitra bisnis Thailand-nya. Saat ini fasilitas tersebut memiliki 11 penghuni. Salah satunya adalah Worawit Dirokkanjanaman (70) yang menderita Parkinson dan demensia. Keponakannya, Ittichet, mengatakan keluarga telah mencapai batas kemampuan merawatnya di rumah, terutama karena Worawit butuh makan lewat selang.
Karena ketersediaan teknologi medis yang luas, populasi Thailand menua dengan kecepatan lebih tinggi dibanding negara maju. Thailand diperkirakan menjadi masyarakat super-lansia hanya dalam 11 tahun lagi. Sebagai perbandingan, Italia, Portugal, dan Yunani butuh 24 tahun, sementara Jepang butuh 12 tahun.
Angka kelahiran Thailand tahun 2025 tercatat 416.000, terendah sejak 1950. Tingkat kesuburan total pada 2023 berada di angka 1,21, setara dengan Jepang. Dulu, lazim bagi keluarga besar di Thailand untuk merawat orang tua di rumah, namun kini hal itu tidak lagi realistis.
Fasilitas perawatan kini menjadi esensial, namun jumlahnya masih sangat rendah, hanya sekitar 800 panti jompo di seluruh negeri untuk populasi 65+ yang mencapai 10 juta jiwa. Masalah lainnya adalah keterjangkauan biaya.
Sebagai respons, upaya mendirikan fasilitas baru mulai gencar. Pansith Khlibthong, seorang operator rumah sakit, mengunjungi Prefektur Kanagawa, Jepang, Desember lalu untuk mempelajari cara Jepang menangani masyarakat lansia. Ia terkesan dengan pendekatan Jepang yang menghormati hak dan martabat lansia, serta penggunaan kamar pribadi yang lebih kecil untuk perawatan yang lebih personal, bukan bangsal besar.
Sekembalinya ke Thailand, Pansith merevisi rencana fasilitasnya, mengubah kamar bersama yang besar menjadi ruang rekreasi dan kamar pribadi. Ia juga melatih stafnya untuk menangani berbagai situasi darurat. Tujuannya adalah menawarkan layanan berkualitas tinggi yang terjangkau bagi keluarga kelas menengah.
Pemerintah Thailand juga berfokus pada pencegahan. Bootsakorn Loharjun, direktur Institut Kedokteran Geriatri, mengatakan tujuannya adalah menjaga orang tetap sehat alih-alih menghabiskan uang untuk pengobatan setelah sakit. Inisiatif sektor swasta seperti kelas pencegahan jatuh online juga bermunculan, menjangkau lebih dari 50.000 anggota lansia.
Saat Thailand bergerak menuju masyarakat super-lansia, negara-negara seperti Jepang yang telah lebih dulu mengalaminya memiliki peran penting untuk berbagi pengetahuan dan teknologi.