BERITA JEPANG
Politik Domestik 21 February 2026

Survei: Mayoritas Pemilih Percaya Berita Palsu pada Pemilu Majelis Rendah Jepang

Oleh NHK Sumber: NHK
Survei: Mayoritas Pemilih Percaya Berita Palsu pada Pemilu Majelis Rendah Jepang

Sebuah survei terhadap para pemilih Jepang dalam pemilihan Majelis Rendah baru-baru ini menemukan bahwa lebih dari 65 persen responden yang menemukan berita palsu mempercayainya sebagai kebenaran.

Profesor dari Universitas Toyo, Morihiro Ogasahara, beserta timnya melakukan survei daring selama tiga hari, dimulai dari hari pemilihan pada tanggal 8 Februari.

Sekitar 1.800 orang di seluruh negeri dengan rentang usia antara 18 hingga 79 tahun ditanyai tentang lima buah informasi menyesatkan yang tersebar selama masa kampanye.

Salah satunya adalah klaim bahwa dengan menghapuskan Badan Anak dan Keluarga akan menghasilkan cukup sumber daya keuangan untuk menutupi pemotongan pajak.

Klaim lainnya menyebutkan bahwa rekaman video mengenai kerumunan orang yang mendengarkan pidato kampanye calon dari Aliansi Reformasi Sentris (CRA) dibuat oleh kecerdasan buatan (AI). CRA merupakan partai oposisi utama di tingkat Majelis Rendah.

Lebih dari separuh responden (sekitar 51,4 persen) mengatakan bahwa mereka sempat melihat sedikitnya satu dari kelima berita palsu tersebut. Dari jumlah tersebut, lebih dari 65 persen di antaranya sempat mempercayai informasi palsu itu.

Ketika ditanya dari mana mereka menemukan laporan tersebut, 32,7 persen menyebut televisi, 22,7 persen mendapatkannya melalui situs berita dan aplikasi ponsel, serta 20 persen lainnya dari media sosial.

Profesor Ogasahara menyebut bahwa berbagai klaim yang disampaikan dalam pidato para kandidat maupun unggahan media sosial kemungkinan besar tersebar luas sebelum sempat diverifikasi. Ia menyatakan bahwa informasi tersebut menyebar lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan untuk mengecek faktanya, apalagi dengan periode kampanye yang berjalan singkat.

Ogasahara menambahkan bahwa masyarakat perlu akses mudah ke sumber informasi yang tepercaya. Menurutnya, saat ini sudah sangat sulit untuk membedakan mana berita yang benar dan fakta yang salah. Ia juga menekankan pentingnya agar masyarakat tidak terburu-buru mengambil penilaian cepat saat dihadapkan pada laporan yang bersifat sensasional.