Penulis Myanmar Ma Thida Tur Ceramah di Jepang: 'Literasi adalah Senjata Demokrasi'

Penulis peraih penghargaan asal Myanmar, Ma Thida, menegaskan bahwa membaca dan berpikir kritis adalah alat perlawanan yang esensial—sekaligus fondasi bagi demokrasi masa depan. Berbicara dalam tur ceramah di tiga kota di Jepang, mantan tahanan politik yang kini hidup dalam pengasingan di Jerman ini merefleksikan kondisi Myanmar pasca-kudeta, di mana militer terus mengokohkan kekuasaannya meski mengklaim tengah kembali ke pemerintahan sipil.
Ma Thida mengunjungi Tokyo, Nagoya, dan Osaka, di mana ia mengimbau hadirin untuk membaca secara luas. Ia berargumen bahwa sastra mempertajam kesadaran dan memperkuat kemampuan berpikir kritis—senjata paling ampuh untuk perlawanan dan transformasi menuju demokrasi.

“Melalui sastra, kita terpapar pada berbagai orang, masyarakat, sistem, pemerintahan, ide, dan opini yang berbeda-beda. Itu sangat penting,” ujar Ma Thida.
Aktivisme Ma Thida bermula pada 1988 ketika ia bergabung dengan gerakan pro-demokrasi saat di sekolah kedokteran. Ia bekerja untuk NLD, partai yang dipimpin oleh ikon pro-demokrasi Aung San Suu Kyi. Pekerjaan ini akhirnya merenggut kebebasannya.
Pada 1993, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Ia menjalani lima setengah tahun di balik jeruji penjara Insein dekat Yangon dalam kondisi yang tidak sehat dan sebagian besar dalam sel isolasi.

Ia dibebaskan atas dasar kemanusiaan, sebagian karena kesehatannya yang menurun, tekanan politik internasional, dan advokasi hak asasi manusia.
Situasi di Myanmar berubah gelap setelah kudeta 2021. Ma Thida memutuskan meninggalkan negaranya dan kini menjadi ketua Komite Penulis di Penjara PEN International di Berlin.
“Saya merasakan survivor guilt,” ungkapnya. “Itulah sebabnya saya berusaha semaksimal mungkin untuk membantu dan memberi semangat kepada rakyat di negara saya.”

Warga Myanmar Leo Aung, 30 tahun, adalah anggota kelompok yang mengundang Ma Thida ke Jepang. Ia dan teman-temannya, terinspirasi oleh filosofi Ma Thida bahwa “berpikir independen adalah hal esensial untuk membangun negara,” mengumpulkan dana untuk mewujudkan tur ceramah tersebut.
“Saya tidak ingin anak-anak di Myanmar memiliki pengalaman buruk seperti yang saya alami. Jadi, prioritasnya adalah memberi mereka makanan, lalu pendidikan. Saya ingin mereka bahagia walau hanya satu hari. Jadi, saya akan terus berjuang selama sepuluh, bahkan lima belas tahun,” kata Leo Aung.

Ma Thida percaya bahwa memupuk pikiran manusia agar bisa berpikir bebas dapat membantu membentuk masa depan yang lebih baik dan membawa demokrasi dalam jangkauan. “Tanpa persetujuan kita, tidak ada yang bisa memerintah kita” adalah salah satu slogan perlawanan yang memberinya harapan.