BERITA JEPANG
Olahraga Sains & Teknologi 12 February 2026

Olimpiade Milano Cortina: Atlet Jepang Masih Jadi Sasaran Ujaran Kebencian di Medsos

Oleh NHK Sumber: NHK
Olimpiade Milano Cortina: Atlet Jepang Masih Jadi Sasaran Ujaran Kebencian di Medsos

Komite Olimpiade Jepang (JOC) menyatakan telah meminta penghapusan lebih dari 900 postingan media sosial yang kasar dan menyerang atlet, namun hanya sekitar 200 yang benar-benar telah dihapus.

Pelecehan online terhadap atlet telah menjadi tantangan serius dalam dunia olahraga.

Pada Olimpiade Paris 2024, Komite Olimpiade Internasional (IOC) memperkenalkan sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dapat secara otomatis menghapus pesan yang ditandai berpotensi kasar. Sistem ini juga beroperasi di Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026 yang sedang berlangsung.

JOC untuk pertama kalinya mendirikan kantor di kota Milan untuk tim respons mereka di Olimpiade ini. Enam personel, termasuk seorang pengacara, bekerja sama dengan anggota di Tokyo untuk melakukan pemantauan 24 jam menggunakan AI dan tinjauan manusia.

Namun, JOC mengatakan postingan tidak pantas terus bermunculan sejak sesaat sebelum Olimpiade dimulai.

Komite tersebut mengatakan telah mengajukan lebih dari 900 permintaan penghapusan antara 19 Januari — sehari setelah Tim Jepang mengadakan upacara inagurasi — hingga 11 Februari. Namun mereka menambahkan bahwa hanya sekitar 200 kasus yang dikonfirmasi telah dihapus.

Atlet ski gaya bebas Jepang, Kondo Kokone, menerima pesan kasar setelah ia mundur karena cedera yang dialami saat latihan resmi. Postingan tersebut mendesaknya untuk menolak panggilan timnas di masa depan, meski terpilih. Kondo merespons di media sosial, mempertanyakan apakah pantas komentar seperti itu ditujukan padanya. Ia menegaskan bahwa ia mendapatkan tempatnya dengan usaha sendiri dan keputusan untuk mundur atau tidak ada di tangannya.

Sekretaris Jenderal JOC, Ota Yuki, peraih medali perak Olimpiade anggar, mengatakan komite bekerja untuk mencegah komentar tak berperasaan yang membuat atlet merasa hidup mereka tidak dihargai, mematikan semangat bertanding, atau membuat mereka kehilangan kecintaan pada olahraga dan Olimpiade.

Ia mengatakan atlet mempertaruhkan hidup mereka di Olimpiade dan mendesak publik untuk memuji usaha mereka bahkan jika mereka gagal mencapai hasil yang diinginkan.