Prediksi Harga Nintendo Switch 2: Siap-Siap Naik Akibat Krisis Memori & Tarif

Para gamer yang menantikan kehadiran konsol terbaru dari Nintendo mungkin perlu menyiapkan anggaran lebih besar. Laporan terbaru dari firma riset pasar Niko Partners memprediksi adanya kenaikan harga global untuk Nintendo Switch 2 pada tahun 2026. Prediksi ini muncul di tengah ketidakstabilan pasar komponen elektronik global yang berdampak pada biaya produksi.
Krisis Memori dan Tarif AS Jadi Pemicu Utama
Dalam laporan “10 Major Trends to Watch in 2026”, Niko Partners menyoroti dua faktor utama yang mendorong potensi kenaikan harga ini: krisis memori global dan kebijakan tarif Amerika Serikat.
Harga komponen memori (RAM) dilaporkan mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa bulan terakhir, yang berdampak langsung pada biaya manufaktur perangkat elektronik, mulai dari PC, smartphone, hingga konsol game. Selain itu, tarif impor yang diberlakukan oleh AS turut menambah beban biaya bagi produsen.
“Kami percaya Switch 2 akan mengikuti jejak Sony dan Microsoft dengan kenaikan harga sendiri yang didorong oleh dampak dari tarif, peningkatan biaya memori, dan kondisi makroekonomi yang lebih luas,” ungkap laporan tersebut. Hal ini merujuk pada langkah PlayStation 5 dan Xbox Series X yang sebelumnya telah menaikkan harga jual mereka di berbagai wilayah.
Potensi Penghapusan Model Dasar
Salah satu skenario yang diprediksi oleh Niko Partners adalah perubahan strategi SKU (Stock Keeping Unit). Nintendo mungkin tidak akan menaikkan harga model dasar secara langsung, melainkan menghentikan penjualan model entry-level seharga $449.
Sebagai gantinya, Nintendo diprediksi hanya akan menjual opsi bundling dengan harga $499 atau lebih tinggi. Langkah ini secara efektif memaksa konsumen untuk membayar harga premium untuk mendapatkan konsol tersebut, meskipun secara teknis bukan kenaikan harga pada unit dasar yang sudah tidak tersedia.
Respon Bos Nintendo: “Kami Memantau Situasi”
Presiden Nintendo, Shuntaro Furukawa, sebelumnya telah memberikan komentar terkait situasi ini. Meskipun tidak mengonfirmasi kenaikan harga secara eksplisit, Furukawa mengakui bahwa pasar memori saat ini “sangat fluktuatif”.
“Kami melakukan pengadaan dari pemasok berdasarkan rencana bisnis jangka menengah hingga panjang, namun pasar memori saat ini sangat fluktuatif,” ujar Furukawa. Ia menegaskan bahwa Nintendo terus memantau kondisi pasar, termasuk dampak nilai tukar dan tarif, untuk memastikan profitabilitas perangkat keras mereka tetap terjaga.
Bagi para penggemar di Indonesia, kenaikan harga global ini hampir pasti akan berdampak pada harga jual lokal, mengingat sebagian besar unit konsol merupakan barang impor. Jika prediksi ini terbukti benar, menabung lebih awal mungkin menjadi langkah bijak sebelum peluncuran atau ketersediaan stok baru di tahun 2026.