Perkuat Pertahanan! Menteri Koizumi Umumkan Jepang Terima Pengiriman 2 Jenis Misil Standoff JSM dan Tomahawk

Menteri Pertahanan Jepang, Koizumi Shinjiro, menyatakan bahwa Jepang telah mulai menerima pengiriman dua jenis misil standoff buatan luar negeri. Langkah ini merupakan bagian dari upaya intensif negara tersebut untuk meningkatkan kemampuan serangan balik (counterstrike capabilities).
Misil jenis standoff dirancang khusus agar dapat menyerang target dari luar jangkauan radar atau jangkauan serang musuh, sehingga memberikan keunggulan strategis bagi pertahanan nasional.
Dalam keterangannya kepada pers pada hari Jumat, Menteri Koizumi mengungkapkan bahwa kedua jenis misil jelajah tersebut adalah Joint Strike Missile (JSM) buatan Norwegia dan misil Tomahawk buatan Amerika Serikat.
Spesifikasi Misil Baru Jepang
- Joint Strike Missile (JSM): Dipasang pada jet tempur dan memiliki jangkauan serang sekitar 500 kilometer.
- Tomahawk: Misil jelajah jarak jauh yang mampu menjangkau target hingga 1.600 kilometer.
Menteri Koizumi menegaskan bahwa akuisisi persenjataan ini tidak bertujuan untuk menjadi ancaman bagi negara lain. Ia menekankan bahwa tidak ada perubahan dalam kebijakan pertahanan Jepang; misil-misil tersebut hanya akan digunakan sebagai respon terhadap serangan bersenjata, sesuai dengan prinsip penggunaan kekuatan minimum yang diperlukan untuk bela diri.
Rencana Penempatan
Kementerian Pertahanan Jepang berencana untuk menempatkan misil Tomahawk gelombang pertama pada kapal perusak milik Pasukan Bela Diri Maritim (MSDF), Chokai. Kapal yang dilengkapi dengan sistem Aegis dan bermarkas di Pangkalan Sasebo, Jepang Selatan ini, saat ini tengah menjalani modifikasi teknis agar dapat meluncurkan misil jelajah tersebut secara efektif.