BERITA JEPANG
Budaya Edukasi 19 February 2026

Kisah Hibakusha Menginspirasi Generasi Muda Jepang Bertindak Demi Perdamaian

Oleh NHK Sumber: NHK
Kisah Hibakusha Menginspirasi Generasi Muda Jepang Bertindak Demi Perdamaian

Pengeboman atom di Hiroshima dan Nagasaki sering kali hanya diajarkan sebagai sejarah. Namun, bagi sebagian anak muda di Jepang, peristiwa tersebut sama relevannya saat ini, dan telah menjadi alasan bagi mereka untuk bertindak. Tersentuh oleh kisah-kisah para penyintas yang dikenal sebagai hibakusha, mereka memilih untuk melangkah maju dengan cara-cara baru agar pesan-pesan perdamaian tetap hidup.

Selama tahun fiskal lalu, Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima mencatat rekor jumlah pengunjung tertinggi yang pernah ada: 2,2 juta pengunjung. Angka saat ini menunjukkan daya tarik tersebut berada di jalur yang tepat untuk kembali memecahkan rekor itu. Bagi banyak pengunjung, pengalaman tersebut bukan tentang sejarah sebagai sesuatu yang telah selesai, melainkan sesuatu yang belum tuntas.

Apa yang terjadi selanjutnya — bagaimana kenangan ini diteruskan — semakin banyak dibentuk bukan oleh pemerintah atau institusi, tetapi oleh individu, dan sering kali adalah anak muda.

Siswa sekolah menengah Higuchi Fumina melukis punggung seorang wanita yang terluka.

Di ruang kelas yang tenang di SMA Negeri Motomachi Hiroshima, seorang siswi menatap kanvas, mencoba mendapatkan warna yang tepat.

Higuchi Fumina sedang mengerjakan lukisan punggung seorang wanita — tergambar luka bakar parah, terpapar oleh ledakan atom. Ia ragu-ragu menentukan warna kulitnya.

“Sangat sulit,” katanya. “Saya tidak ada di sana.”

Lukisan ini menggambarkan punggung seorang ibu yang terpapar sinar panas dan radiasi bom atom.

Subjek lukisan itu adalah Takiguchi Sakae, seorang penyintas bom atom. Permintaan lukisan datang dari putranya, Takiguchi Hidetaka, yang berusia empat tahun saat bom dijatuhkan. Saudari perempuannya, Hiroko, baru berusia 10 bulan.

“Ada kilatan cahaya,” kenangnya. “Ibuku menutupi adikku.”

Sakae menderita luka bakar parah di sekujur punggungnya. Kendati terluka, ia mencari putranya dengan putus asa di antara puing-puing. Hiroko meninggal beberapa minggu kemudian.

“Ibu saya selalu berkata dia tidak ingin mengingatnya karena itu seperti neraka,” kata Takiguchi. “Saya tidak ingin orang lain mengalami hal tersebut.”

Hibakusha Takiguchi Hidetaka (kiri) bersama seniman muda Higuchi Fumina

Selama berbulan-bulan, Higuchi dan Takiguchi bertemu dan berbincang. Pada awalnya, Higuchi fokus pada akurasi ― pada penyajian kerusakan (luka) dengan setia. Seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa ini bukan tujuan sebenarnya.

“Ini bukan hanya tentang realisme,” katanya. “Ini tentang apa yang dirasakan ibunya. Dan apa yang ia rasakan terhadap ibunya.”

Takiguchi, difoto bersama ibunya Sakae, mengatakan dia selalu berharap dia memiliki foto punggung ibunya yang terluka untuk menggambarkan kengerian yang dia alami.

Higuchi menyelesaikan lukisannya pada tahun 2024 dan Takiguchi kini menggunakannya saat berbicara kepada pengunjung ― dalam bahasa Inggris dan Jepang ― tentang pengalamannya.

Di usia 85 tahun, ia terus memberikan kesaksiannya. Selama lima tahun terakhir, hampir 20.000 orang telah mendengarkannya.

“Saya meminta mereka untuk menyampaikannya kepada orang lain,” ucapnya. “Tindakan kecil bisa menjadi gerakan besar.”

Ia selalu menyampaikan satu pesan mendalam di akhir ceramahnya: “Setiap orang itu berbeda. Jika kita belajar menerima perbedaan satu sama lain, dunia akan jauh lebih damai. Semangat saling mendukung akan menyebar. Saya optimis. Begitulah seharusnya dunia berjalan.”

“Ibu dan Anak Perempuan Terkena Kilatan” oleh Higuchi Fumina menangkap apa yang dialami ibu Takiguchi, Sakae ― penderitaan, pengorbanan, dan cintanya.

Proyek kolaborasi bersama Takiguchi secara dramatis mengubah perspektif Higuchi. Ia mengatakan bahwa mengetahui perihal bagaimana bom atom merenggut nyawa individu tanpa pandang bulu membuatnya lebih menghargai pentingnya bersikap positif.

Higuchi telah lulus dari sekolah menengah dan kini belajar fashion. Ia percaya setiap orang dapat berkontribusi pada perdamaian melalui kehidupan sehari-hari, dan baginya, fashion adalah jalan tersebut karena memiliki kekuatan untuk membawa kegembiraan bagi banyak orang.

Higuchi yang sejak lama bermimpi berbuat sesuatu untuk perdamaian, kini mewujudkan tujuan itu melalui mode.

“Saya percaya keinginan untuk menyenangkan terhubung dengan kedamaian,” katanya. “Saya ingin menciptakan pakaian yang bisa membuat orang bahagia.”

Higuchi percaya memantik kegembiraan dapat menginspirasi orang untuk mengikuti jalan yang damai.

Merasakan Sakit Lewat VR dan Empati

Di Nagasaki, Hayashida Mitsuhiro meminta peserta dalam Tur Perdamaiannya untuk melakukan pencitraan mental (visualization).

“Bayangkan ini tanggal 9 Agustus 1945,” dia memberi tahu mereka. “Seorang anak berlumuran darah meraih kaki Anda, meminta air. Apa yang Anda lakukan?”

Hayashida Mitsuhiro, Laboratorium Pendidikan Perdamaian

Jawabannya bervariasi. Banyak pesertanya adalah siswa sekolah menengah.

“Saya ingin berpikir saya akan membantunya,” kata seseorang. “Tetapi saya tidak yakin apakah saya sanggup.”

“Saya pasti akan panik,” sahut yang lain.

Hayashida tidak mengoreksi mereka. Keraguan itulah intinya. Ia ingin anak muda membayangkan tidak hanya penderitaan, tetapi juga kebingungan ― dan memahami bahwa banyak orang pada masa itu merasakan hal yang sama. Beberapa orang hidup dengan rasa bersalah menahun atas apa yang tak dapat mereka lakukan.

Proyek Hayashida mendorong peserta untuk menenun aktivitas perdamaian ke dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Lahir dekat hypocenter Nagasaki, Hayashida meyakini empati adalah hal terpenting.

“Kedamaian dimulai dengan memahami rasa sakit orang lain,” tuturnya. “Ini adalah fondasi dari semua yang saya lakukan.”

Ia melatih sukarelawan muda sebagai pemandu ― yang ia sebut “peace buddies” ― untuk memperluas lingkaran keterlibatan. Banyak yang mengatakan bahwa awalnya mereka ingin melakukan sesuatu, tetapi tidak tahu apa atau bagaimana.

Hibakusha Yoshida Katsuji (1931-2010) membagikan kesaksiannya kepada khalayak luas.

Hayashida belajar tentang kekuatan empati dari seorang hibakusha bernama Yoshida Katsuji. Dia sering memberi tahu pendengar muda, “Jika Anda benar-benar memahami rasa sakit orang lain, Anda dapat membantu mencegah konflik.”

Kata-kata tersebut, yang pertama kali didengar Hayashida saat remaja, terus membentuk cara pandangnya tentang perdamaian hari ini.

Pendekatan Hayashida tidak hanya berakar pada masa lalu. Di salah satu tur, ia memutar suara di ponselnya ― suara sirine tajam yang meningkat.

“Kedengarannya seperti masa lalu,” dia memberi tahu para siswa. “Tapi ini berasal dari Ukraina masa kini.”

Seluruh kelompok hanya mendengarkan dalam keheningan.

Peserta Tur Perdamaian di Nagasaki mendengarkan suara sirine serangan udara dari Ukraina saat ini.

Realitas Virtual Merekam Sejarah

Mengingat para penyintas bom atom semakin lanjut usia dan jumlahnya makin berkurang, menemukan cara efektif melestarikan kenangan mereka kini kian mendesak. Salah satu upaya yang dilakukan melibatkan Virtual Reality (VR).

NHK menggunakan teknologi VR untuk memvisualisasikan pengalaman pengeboman, mengacu pada kesaksian Kodama Mitsuo dan para penyintas lainnya.

NHK telah memproduksi pengalaman VR berdasarkan kesaksian Kodama Mitsuo, yang saat itu berusia 12 tahun ketika bom atom menghantam Hiroshima. Beliau wafat tahun 2020 silam, setelah puluhan tahun menebarkan kisah pilu tentang apa yang disaksikannya hari itu.

Kodama Mitsuo (1932-2020) menceritakan kembali kesaksiannya tentang serangan bom atom Hiroshima berkali-kali hingga kematiannya karena kanker.

Pada 6 Agustus 1945, Kodama berada di ruang kelas kelas tujuh. VR tersebut menangkap suasana khas sekolah di pagi hari yang bising dengan suara siswa.

“Ada 307 anak kelas tujuh di sana hari itu,” narasi Kodama berkisah. Sesaat kemudian, pemandangan seketika hancur berkeping-keping.

Gambaran VR ruang kelas di Hiroshima pada pagi 6 Agustus 1945

Setelah kilatan, Kodama merangkak keluar dari reruntuhan menuju kegelapan. Siswa-siswa yang terluka berkumpul di kolam renang sekolah, dengan kondisi luka bakar teramat parah sehingga hampir tak bisa dikenali.

“Air… air…” pekik banyak dari mereka. “Punggungku terbakar.”

Seseorang memanggil namanya. Kodama menoleh tetapi tidak dapat langsung mengetahui siapa itu.

“Aku tak bisa melihat dengan jelas,” lenguh suara malang itu. “Ada apa dengan wajahku?”

Kodama berkata dia selalu menanggung “survivor’s guilt”, karena 288 teman sekolahnya meregang nyawa.

Mencari pertolongan, Kodama menuju ke kolam dalam gambaran VR tentang bom Hiroshima.

Ketika siswi di SMA Negeri Kokutaiji Hiroshima mencoba VR tersebut, banyak yang terharu tak kuat batinnya, bahkan tertunduk dalam tangis.

Mereka semua telah mempelajari tentang bom atom sejak masih sangat belia. Tetapi, dampak pengalaman VR belum pernah mereka temukan sebelumnya.

Sebagian tertegun tak bisa berkata-kata. Yang lain tak sanggup menahan tangis, atau menjerit tersedu kala adegan pilu merebak di sekitar relung maya mereka. Yamada Koharu merasa terguncang hebat.

Siswa sekolah menengah Hiroshima Yamada Koharu diliputi emosi ketika ia menyadari bahwa siswa seperti dirinya mengalami kehidupan mereka dijungkirbalikkan oleh kehancuran dalam satu momen.

“Saya masih harus banyak belajar, dan saya tak bisa membandingkan perasaan saya dengan seseorang yang benar-benar mengalaminya. Akan tetapi, apa yang sesungguhnya diharapkan oleh hibakusha hanya dapat terwujud andai kita ambil langkah tindakan,” cetusnya.

Yamada langsung berjanji meningkatkan porsi ekstra ke dalam studi sejarah dan bahasa Inggrisnya, demi mendalami ihwal ini lebih lanjut.

“Ini bukan hanya perkara penderitaan di Hiroshima,” gumamnya. “Kita wajib memandang gambaran yang jauh lebih luas. Berteriak ‘ayo hentikan perang’ tanpa dibekali wawasan riil layaknya idealis kosong belaka. Untuk meraih kedamaian, pikirku esensial menelaah terlebih dahulu musabab perang bisa terjadi.”

Yamada mengatakan pengalaman VR memiliki dampak mendalam.

Delapan dekade pasca berakhirnya perang, fokus tak hanya beralih kepada menyayur ingatan pilu, tetapi pula soal siapa yang menggondol tanggung jawab guna membangun tatanan dunia supaya kekejian tak lantas terulang. Sentimen itu acap disuarakan para hibakusha lewat rintihan mereka, “No more Hiroshima. No more Nagasaki. No more war.”

Bagi Yamada, itu semua menuntut aksi konkrit, bukan hanya menganggam asa. Bagi Higuchi, itu mengusahakan lentera inspirasi memancar pada benak sesama. Dan bagi Takiguchi, itu tekad kokoh buat tak pernah jemu bertutur narasi dan meyakini daya tembus pesan-pesan universalitas akan bersemai di mana-mana.

Tak satupun mengaku menggenggam resep jitu untuk ihwal pelik masa mendatang, sungguhpun begitu, daya dan ikhtiyar gigih tumpah ruah menjaga nyanyian kepahitan ini didengar tanpa henti oleh riuh gema umat manusia.


(Karya terjemahan adaptasi ini berdasarkan liputan eksklusif Oku Shotaro dan Aruga Michi dari NHK Hiroshima, serta Koyama Shoko dari NHK Nagasaki untuk NHK World).