Kasus Penipuan 'Tokushu Sagi' di Jepang Cetak Rekor, 70% Pelaku Menyamar Jadi Polisi

Kepolisian Jepang mengungkapkan kerugian akibat kasus “penipuan khusus” (tokushu sagi) secara nasional mencapai rekor tertinggi tahun lalu, yakni 141,4 miliar yen (sekitar 928 juta dolar AS).
Angka sementara yang dirilis Badan Kepolisian Nasional (NPA) ini hampir dua kali lipat dari total tahun 2024.
“Penipuan khusus” merujuk pada jenis penipuan di mana pelaku menghubungi korban melalui telepon dan metode lainnya, berpura-pura menjadi tokoh berwenang atau anggota keluarga.
Sekitar 70 persen kasus melibatkan pelaku yang menyamar sebagai polisi. Kerugian dari kasus ini mencapai 98,5 miliar yen (sekitar 646 juta dolar AS), melonjak tajam dari tahun sebelumnya.
Korban berusia 20-an hingga 40-an menyumbang 51 persen dari total korban penipuan bermodus polisi palsu.
Rata-rata jumlah yang ditipu per kasus adalah 17 juta yen (sekitar 112.000 dolar AS) untuk korban berusia 70-an dan 16 juta yen (sekitar 105.000 dolar AS) untuk korban berusia 60-an.
Tujuh puluh lima persen panggilan telepon, termasuk dari penipu bermodus polisi palsu, dilakukan dari luar negeri.
Kelompok penipu diduga telah membangun basis penipuan berskala besar terutama di Asia Tenggara, dan memaksa warga negara Jepang serta orang lain yang direkrut dengan tawaran pekerjaan paruh waktu mencurigakan untuk mengoperasikan telepon.
Selain penipuan khusus, kerugian dari penipuan investasi dan penipuan asmara (romance scam) di media sosial juga meningkat.
Badan Kepolisian menyatakan situasinya kritis dan diperlukan langkah-langkah mendesak untuk memerangi berbagai jenis penipuan tersebut.