Jepang Gencar Amankan Cadangan Logam Tanah Jarang di Namibia, Kurangi Ketergantungan dari Tiongkok

Pemerintah Jepang mempercepat upaya untuk mengamankan sumber daya logam tanah jarang (rare earth) di Namibia, Afrika barat daya. Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi rantai pasokan mineral kritis yang vital bagi industri teknologi tinggi.
Pejabat Jepang tengah mengadakan pembicaraan dengan delegasi dari berbagai negara dalam konferensi pertambangan tahunan yang berlangsung di Cape Town, Afrika Selatan, pekan ini.
Mereka bertemu pejabat pemerintah Namibia pada hari Selasa untuk membahas kepentingan di bidang sumber daya mineral negara tersebut.
Eksplorasi oleh JOGMEC (Japan Organization for Metals and Energy Security), lembaga afiliasi pemerintah, telah menemukan deposit besar logam tanah jarang berat seperti dysprosium dan terbium di tambang-tambang Namibia.
Mineral-mineral tersebut esensial dalam memproduksi magnet kuat yang digunakan dalam motor untuk kendaraan listrik dan robot industri.
Setelah pembicaraan, pejabat Jepang menyatakan akan memajukan kajian spesifik menuju pengamanan kepentingan perusahaan Jepang atas mineral tersebut.
Wakil Menteri Perindustrian Jepang untuk urusan internasional, Matsuo Takehiko, mengatakan ia menemukan pemerintah Namibia memiliki harapan tinggi untuk kemajuan yang cepat.
Matsuo menambahkan proyek Namibia akan signifikan, karena diversifikasi sumber pasokan sangat penting dari sudut pandang keamanan ekonomi.
Jepang hampir sepenuhnya bergantung pada impor untuk kebutuhan domestik logam tanah jarang. Hampir 70 persen impor berasal dari Tiongkok.
Negara-negara lain juga mempercepat upaya mengamankan pasokan stabil mineral kritis, termasuk logam tanah jarang.
Presiden AS Donald Trump menargetkan pembangunan rantai pasokan stabil yang tidak bergantung pada negara lain seperti Tiongkok. Rencananya mencakup proyek pembentukan cadangan nasional mineral kritis.