Hubungan Jepang-Tiongkok Memanas: Apa Kata Dubes Jepang di Beijing?

NHK baru-baru ini mewawancarai Duta Besar Jepang untuk Tiongkok, Kanasugi Kenji, untuk membahas penurunan hubungan bilateral dengan Beijing. Ia menegaskan Tokyo akan terus mengupayakan dialog, sembari merespons tegas setiap retorika.
Perdana Menteri Jepang Takaichi Sanae tengah berada di puncak popularitas setelah kemenangan telak di pemilu. Perhatian besar tertuju pada dampaknya bagi hubungan Tokyo dengan Beijing. Tiongkok terus menunjukkan ketidakpuasan sejak November lalu, ketika Takaichi menyatakan bahwa kemungkinan darurat atas Taiwan bisa mengancam kelangsungan Jepang.
“Jepang percaya dialog dapat menempatkan hubungan bilateral pada pijakan yang stabil, dan itu akan menguntungkan kedua belah pihak,” kata Duta Besar Kanasugi di Beijing bulan lalu, sebelum kemenangan besar Takaichi di pemilu. “Namun sayangnya, saat ini Tiongkok tidak menunjukkan tanda-tanda untuk merespons.”
Para pemimpin di Beijing terus meningkatkan tekanan terhadap Tokyo sejak pernyataan Takaichi. Pada awal Januari, Kementerian Perdagangan Tiongkok mengumumkan pengetatan kontrol ekspor ke Jepang untuk barang-barang yang disebut Beijing sebagai dual-use — memiliki aplikasi militer dan sipil. Daftar tersebut mencakup logam tanah jarang yang vital bagi industri teknologi tinggi.
Beijing belum menjelaskan bagaimana aturan ini akan diterapkan secara konkret, namun Kamar Dagang dan Industri Jepang di Tiongkok telah meminta konfirmasi bahwa langkah tersebut tidak akan memengaruhi ekspor barang sipil.

Pejabat Beijing bahkan meminta warga Tiongkok untuk menahan diri bepergian ke Jepang. Dan banyak yang mengikuti imbauan tersebut: Japan National Tourism Organization mencatat jumlah pengunjung dari Tiongkok turun 45,3 persen (year-on-year) pada Desember 2025.
Beberapa bulan terakhir juga ditandai dengan meningkatnya klaim tak berdasar tentang Jepang. Tiongkok menuduh Jepang mengejar “militerisme baru” dan bahkan ingin menjadi negara nuklir. Beijing juga mengklaim keamanan publik Jepang tidak stabil.
Duta Besar Kanasugi menunjukkan bahwa pengerasan sikap Beijing terhadap Tokyo bertepatan dengan peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II tahun lalu. Tiongkok juga tengah memperketat narasinya terkait Taiwan.
Ia juga mengatakan Tokyo harus terus membantah klaim palsu tentang Jepang, tanpa menutup pintu dialog. “Kita harus terus menunjukkan bahwa kita terbuka untuk berdialog. Dan ketika peluang komunikasi muncul, Jepang harus memperjelas posisinya sembari mencari celah yang bisa memupuk hubungan yang stabil.”
Presiden AS Donald Trump dilaporkan berencana mengunjungi Tiongkok pada April untuk pertemuan puncak dengan Presiden Xi Jinping. Pembicaraan ini berlangsung di tengah prioritas tinggi Beijing terhadap hubungan dengan Washington, dan keinginan menampilkan status Tiongkok sebagai negara adidaya global.
Duta Besar Kanasugi menilai Tiongkok mungkin siap mencapai sejumlah kesepakatan dengan Trump menjelang pemilu sela AS musim gugur ini, seperti pengurangan defisit perdagangan AS atau kerja sama pengendalian narkoba.

Tiongkok juga akan menjadi tuan rumah KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada November. Dengan begitu banyak agenda, muncul pertanyaan: Apakah hubungan dengan Jepang benar-benar masuk dalam daftar prioritas Beijing?
Bagaimanapun, Kanasugi menyarankan kesabaran dan pragmatisme sebagai langkah yang tepat. “Saya benar-benar menyadari betapa cepatnya Tiongkok berubah, dan saya berharap masyarakat Jepang bisa melihat dan memahami hal ini juga,” ujarnya.
“Sangat disayangkan dialog yang terjadi begitu sedikit. Namun kita harus menemukan cara untuk saling memahami.”