Tuai Kecaman! Gedung Putih Gunakan Cuplikan Anime Dragon Ball dan Yu-Gi-Oh! Tanpa Izin untuk Video Serangan Militer

Pemerintah Amerika Serikat melalui Gedung Putih tengah menghadapi gelombang kritik tajam terkait unggahan media sosial mereka mengenai serangan AS terhadap Iran. Kritik muncul karena penggunaan cuplikan yang berasal dari animasi populer Jepang dan video game ternama tanpa izin pemilik hak cipta.
Pada tanggal 5 Maret, Gedung Putih mengunggah video dengan pesan “JUSTICE THE AMERICAN WAY” yang mencampurkan adegan serangan militer dengan cuplikan dari serial anime legendaris Yu-Gi-Oh! dan Dragon Ball.
Denied by Intellectual Property Owners
Akun media sosial resmi Yu-Gi-Oh! langsung memberikan komentar pada hari Rabu, yang dengan tegas membantah keterlibatan siapapun yang terkait dengan manga atau anime tersebut. Pihak mereka menyatakan bahwa tidak pernah memberikan izin penggunaan kekayaan intelektual (IP) mereka untuk tujuan propaganda militer semacam itu.
Selain masalah hak cipta, video tersebut dikritik karena nadanya yang dianggap tidak pantas. The New York Times menyebut bahwa video ini seolah-olah “mereduksi kengerian dan kekacauan perang menjadi hiburan distopia yang sembrono.”
Kontroversi dengan Nintendo dan Pokemon
Tidak hanya anime, Gedung Putih juga mengunggah konten yang meminjam aset dari game populer Nintendo. Sebuah gambar promosi yang menyertakan slogan “Make America Great Again” terlihat menggunakan latar belakang yang diambil langsung dari game Pokemon terbaru.
Bahkan, pada hari Kamis, sebuah video berdurasi 52 detik yang menggabungkan serangan terhadap fasilitas Iran dengan cuplikan gameplay seri Wii Sports juga beredar. Video tersebut secara mengejutkan menampilkan layar awal dengan nama operasi militer: “Operation Epic Fury”.
Kecaman keras terus mengalir dari warganet global. “Perang bukanlah permainan,” tulis salah satu pengguna media sosial. Beberapa pihak bahkan mengklaim bahwa video yang meremehkan dampak serangan militer tersebut bisa dianggap sebagai bentuk pelanggaran etika perang yang serius di era digital.