Esports Tanpa Batas! Jepang Ciptakan Game Inklusif untuk Lansia dan Disabilitas

Esports telah bertransformasi dari sekadar hobi menjadi fenomena global yang bernilai miliaran dolar. Meskipun bermain game selama ini sering dianggap identik dengan anak muda, sebuah acara baru-baru ini di Tokyo menantang stereotip tersebut dengan mempromosikan inklusivitas tanpa batas.
Tokyo Esports Festa, yang diselenggarakan pada awal Januari, menampilkan berbagai peralatan dan game inovatif serta mengadakan workshop dan seminar. Hampir 50 perusahaan membuka stan, banyak di antaranya berfokus pada misi membawa lebih banyak inklusivitas ke dalam komunitas gaming.
Salah satu stan yang menarik perhatian menampilkan perangkat gaming yang dimodifikasi khusus (adaptif) untuk memenuhi kebutuhan pemain dengan disabilitas fisik dan lansia. Inovasi tersebut mencakup kontroler yang dapat dioperasikan dengan dagu atau pipi, pelacak mata (eye tracker) yang merespons gerakan pandangan, serta tombol “lengket” statis yang hanya memerlukan sedikit sentuhan fisik untuk dioperasikan.
Daisuke Sonoda, direktur UDe-Sports (asosiasi yang menciptakan platform inklusif), mengatakan tujuannya adalah membuat game yang bisa dimainkan oleh siapa saja pada percobaan pertama mereka.
“Sulit bagi orang tua dan penyandang disabilitas untuk menemukan tempat di mana mereka dapat menguji kemampuan diri dalam pertandingan yang serius,” kata Sonoda. “Saya berharap game ini menciptakan ruang kompetitif bagi mereka.”
Selain aksesibilitas fisik, esports kini diakui memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan mental di tengah masyarakat Jepang yang menua (aging society). Aspek permainan dan jejaring sosial dianggap sebagai alat vital untuk mencegah isolasi sosial dan demensia.
Terapis okupasi, Toshinobu Wakasa, menjadi salah satu panelis di acara tersebut. Ia menegaskan bahwa banyak lansia yang tinggal sendirian bisa menghabiskan waktu seminggu penuh tanpa berbicara dengan siapa pun.
“Menemukan cara untuk menghubungkan orang-orang ini dan memberikan sarana yang menyenangkan untuk mencegah ketergantungan perawatan adalah kuncinya,” kata Wakasa. Ia percaya esports dapat mengubah rutinitas seorang lansia dari sekadar “dirawat” menjadi kebiasaan harian yang memberdayakan, sebuah tujuan yang ia deskripsikan sebagai “meleburkan kesendirian dan memulai ulang kehidupan.”
Bagi beberapa lansia, bermain game bahkan telah menjadi karier pasca-pensiun. Seorang pemain berusia 70 tahun dengan nama pengguna “mark25” adalah anggota Matagi Snipers, tim esports senior profesional pertama di Jepang.
“Bagian paling menyenangkan adalah memikirkan strategi untuk memenangkan pertandingan dengan rekan setim dan mengasah keterampilan sendiri,” ujar mark25. Ia menambahkan bahwa bermain melalui avatar online memungkinkannya bersaing tanpa menghadapi prasangka usia dari lawan yang jauh lebih muda.
Masahiro Yasunobu dari Departemen Bisnis Esports Global SEGA percaya bahwa transisi gaming menjadi “olahraga yang sesungguhnya” adalah perubahan sosial yang vital. “Di masa lalu, budaya gaming kadang dipandang sebelah mata. Tetapi sebagai olahraga, persepsinya berubah. Ini dapat digunakan dalam pendidikan dan kesejahteraan sosial, seperti halnya olahraga tradisional.”