Belajar dari Tohoku: Delegasi Turki Kunjungi Jepang untuk Perkuat Ketersiapaan Menghadapi Gempa

Sama seperti Jepang, Turki memiliki sejarah panjang gempa bumi yang merusak. Pada tahun 2023, negara tersebut dan tetangganya, Suriah, dilanda gempa dahsyat yang menewaskan lebih dari 59.000 orang.
Turki kini mengalihkan fokus dari pemulihan ke kesiapsiagaan. Sebagai bagian dari proses ini, Turki berharap dapat bertukar pelajaran dalam pengurangan risiko bencana dengan Jepang.
Delegasi dari Bulan Sabit Merah Turki baru-baru ini mengunjungi Kota Ishinomaki di Prefektur Miyagi. Wilayah tersebut merupakan salah satu daerah di wilayah timur laut Tohoku yang paling parah terkena dampak Gempa Besar Jepang Timur dan tsunami tahun 2011.
Tujuannya sederhana: belajar dari pengalaman satu sama lain dan memperkuat kesiapsiagaan di masa depan.
Murat Sezer, seorang pejabat dari Bulan Sabit Merah Turki, mengatakan, “Ada kasus bencana yang serupa di negara kami dan juga di Jepang.” Ia menekankan bahwa mereka kini bekerja keras menuju pengurangan risiko bencana.
SD Kadonowaki menjadi perhentian pertama bagi rombongan tersebut. Bekas sekolah ini dilestarikan sebagai monumen peringatan gempa yang menghancurkan. Garis hitam masih terlihat di dinding, menandai ketinggian tsunami yang mencapai bangunan tersebut hari itu.
Pemandu lokal menjelaskan bahwa air setinggi hampir dua meter membanjiri lantai pertama. Tak lama kemudian, kebakaran terjadi, menyebabkan sebagian besar bangunan hangus terbakar. Namun meskipun terjadi kehancuran, setiap siswa dan guru yang berada di sekolah saat bencana melanda berhasil selamat.
Guru-guru dengan cepat memutuskan untuk mengevakuasi semua orang ke bukit di belakang sekolah, sebuah keputusan yang pada akhirnya menyelamatkan banyak nyawa.
Delegasi tersebut menelusuri kembali rute evakuasi yang sama, mendengar bagaimana perbedaan jarak hanya beberapa meter menjadi penentu antara hidup dan mati.
Sezer berkata, “Sulit untuk mengungkapkan perasaan saya ketika memikirkan anak-anak tersebut. Anda membayangkan air yang naik, api yang menyebar.”
Ia mengatakan bahwa kolaborasi antara siswa dan guru yang mendorong evakuasi cepat adalah poin yang paling mencolok, seraya menambahkan bahwa “berbagi informasi memberikan perbedaan yang sangat krusial.”
Selanjutnya, delegasi mengunjungi ruang pameran di sebelah sekolah. Ruang ini menyimpan kenangan akan bencana dan meneruskan pelajaran yang didapat.
Dipajang di sana adalah barang-barang milik siswa dari sekolah lain di Ishinomaki, SD Okawa, yang tidak selamat dari tsunami.
Pameran tersebut juga menampilkan peta pencegahan bencana yang digambar oleh anak-anak sekolah, yang menyoroti area-area yang mereka yakini bisa menjadi berbahaya jika terjadi bencana di masa depan.
Sezer mengatakan cara sejarah tersebut tetap “hidup dan segar” adalah hal yang paling membuatnya terkesan. “Mereka menjaganya tetap hidup dan membagikannya kepada keluarga-keluarga,” tambahnya — sebuah cara sistematis untuk menyebarkan pengetahuan.
Perhentian terakhir adalah sebuah sekolah menengah atas setempat. Di sana, delegasi menjelaskan respons Turki terhadap gempa bumi tahun 2023, seperti menyediakan air, layanan sanitasi, dan layanan perlindungan.
Mereka juga menjelaskan bagaimana mereka sedang mengerjakan proyek pengurangan risiko berbasis komunitas dan sekolah yang baru, serta latihan evakuasi skala besar yang diadakan tahun lalu.
Para siswa juga membagikan upaya kesiapsiagaan mereka sendiri, seperti latihan darurat tahunan dan “pekan pencegahan bencana,” saat mereka memeriksa tas perlengkapan darurat mereka.
Seorang siswi SMA mengatakan, “Sangat menarik untuk mengetahui jenis dukungan apa yang dibutuhkan di tempat-tempat yang infrastrukturnya lemah.”
Seorang siswa laki-laki menambahkan, “Saya menyadari bahwa orang-orang masih menderita di tempat lain. Saling mendukung itu penting.”
Jepang dan Turki sama-sama menghadapi risiko tinggi gempa bumi yang kuat, termasuk di kota-kota besar seperti Istanbul dan ibu kota Jepang, Tokyo.
Karena keduanya adalah kota yang sangat padat, kerusakannya bisa sangat parah. Sezer menekankan bahwa kesiapsiagaan bencana dan kerja sama internasional sebelum bencana terjadi sangatlah penting.
Sezer berbicara tentang pentingnya mendidik generasi muda secara khusus.
“Anak muda hari ini akan menjadi orang dewasa hari esok. Mereka akan memiliki pekerjaan di masa depan. Mereka akan membangun keluarga mereka sendiri,” katanya.
“Jika mereka membawa pengetahuan ini ke masa depan, kita akan melihat perubahan.”