BERITA JEPANG
Kesehatan Sains & Teknologi 26 January 2026

Nol Kasus! Cara Jepang Sukses Eliminasi Rubella yang Bisa Ditiru Dunia

Oleh NHK Sumber: NHK
Nol Kasus! Cara Jepang Sukses Eliminasi Rubella yang Bisa Ditiru Dunia

September lalu menjadi momen bersejarah bagi kesehatan masyarakat Jepang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menyatakan bahwa Jepang berhasil mengeliminasi transmisi endemik rubella. Penyakit virus ini, meski sering dianggap ringan, dapat berakibat fatal atau menyebabkan cacat permanen pada bayi jika menginfeksi ibu hamil.

Kesuksesan ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari perjuangan panjang pemerintah dan aktivis, terutama para ibu yang anak-anaknya menjadi korban Sindrom Rubella Kongenital.

Bahaya Tersembunyi Rubella

Sindrom Rubella Kongenital dapat menyebabkan cacat lahir serius seperti kelainan jantung, gangguan pendengaran, dan katarak. Risiko tertinggi terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan. Masalah utamanya adalah “Silent Carrier”: hingga sepertiga orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala, sehingga mereka bisa tanpa sadar menularkan virus ke ibu hamil.

Epidemi rubella di Jepang pada 2012-2013 menjadi peringatan keras. Saat itu, 45 bayi didiagnosis dengan sindrom ini, dan tragisnya, 11 di antaranya meninggal sebelum usia 15 bulan. Mayoritas penyebaran (sekitar 80%) didorong oleh pria yang belum divaksinasi.

Perjuangan Kani Kayo

Salah satu tokoh sentral dalam gerakan ini adalah Kani Kayo (71) dari Prefektur Gifu. Putrinya, Taeko, lahir dengan Sindrom Rubella Kongenital dan menderita kerusakan parah pada mata, telinga, dan jantung sebelum meninggal di usia 18 tahun.

Pesan terakhir Taeko, “Papa, Mama, saya telah berusaha sebaik-baiknya,” menjadi motivasi Kani untuk terus berkampanye. “Pesan ini adalah kekuatan kami,” ujarnya. Pada 2013, ia mendirikan asosiasi orang tua korban rubella dan turun ke jalan menyerukan vaksinasi, khususnya bagi pria dewasa yang dulunya tidak tercakup program imunisasi wajib.

Langkah Strategis Jepang

Merespons desakan ini, pada 2019 pemerintah Jepang meluncurkan tes antibodi gratis dan vaksinasi rubella bagi pria yang tidak memiliki kekebalan cukup. Dampaknya drastis: dari lebih dari 14.000 kasus pada 2013, angka infeksi turun menjadi hanya 10 kasus pada 2021, hingga akhirnya dieliminasi pada 2025.

Meskipun WHO telah memberikan status eliminasi, Kani dan para ahli seperti Profesor Takashima Yoshihiro dari Universitas Osaka mengingatkan untuk tetap waspada. Penurunan tingkat vaksinasi rutin anak-anak global akibat pandemi COVID-19 meningkatkan risiko virus masuk kembali dari luar negeri.