Analisis: Isu Keamanan Nasional Jadi Sorotan Jelang Pemilu Jepang

Dengan meningkatnya ketegangan regional, keamanan nasional dan diplomasi telah menjadi isu utama bagi para pemilih dalam pemilihan umum Jepang. Komentator senior NHK, Kajiwara Takamoto, mengeksplorasi topik-topik ini dan pendekatan yang diambil oleh berbagai partai politik.
T: Apa konteks mengenai lingkungan keamanan Jepang yang parah?
Kajiwara Takamoto: China, Korea Utara, dan Rusia telah meningkatkan aktivitas militer di sekitar Jepang. Pembangunan militer China yang cepat secara khusus mengguncang keseimbangan keamanan di kawasan tersebut. Dan negara itu tampaknya memperluas jangkauannya.
T: Hubungan Jepang-China memburuk setelah Perdana Menteri Takaichi Sanae menjawab pertanyaan di Diet tahun lalu. Dia mengatakan kemungkinan darurat Taiwan yang melibatkan penggunaan kekuatan dapat dianggap sebagai situasi yang mengancam kelangsungan hidup Jepang. Bagaimana tanggapan Beijing?
Kajiwara Takamoto: Beijing telah meningkatkan tekanan terhadap Jepang secara militer. Dan ada tekanan ekonomi juga.

Beijing mengumumkan pada bulan Januari bahwa mereka akan memperketat pembatasan ekspor barang-barang ke Jepang baik untuk penggunaan militer maupun sipil. Unsur tanah jarang (rare earth) juga bisa menjadi subjek tindakan tersebut.
Hal itu menambah pandangan yang berkembang di antara partai-partai berkuasa dan oposisi bahwa hubungan akan terus tegang untuk waktu yang lama.
Mereka mengatakan bahwa Jepang harus menanggapi China dengan tegas dan mencari cara untuk membuka dialog guna membangun hubungan strategis yang saling menguntungkan.
T: Bagaimana sekutu Jepang, AS, masuk dalam hal ini?

Kajiwara Takamoto: Ada sentimen yang menyebar di dalam pemerintah Jepang bahwa perlu untuk menyelaraskan pandangan dengan Washington tentang cara menangani China. Tapi itu tidak selalu mudah.
Sumber pemerintah mengatakan bahwa Jepang meminta AS untuk mengirim pesan mendukung Jepang saat China meningkatkan tekanan.
Tapi Presiden Donald Trump dan anggota kabinetnya tetap diam. Itu membuat Tokyo kecewa.

KTT AS-China akan diadakan paling cepat April, dan ada kemungkinan diplomasi ulang-alik antara para pemimpin akan dimulai.
Diyakini bahwa pejabat Jepang ingin mengunjungi AS paling cepat bulan depan untuk menyelaraskan pandangan dengan Trump tentang strategi China. Namun bangkitnya kebijakan “America First” Washington menambah lapisan kompleksitas lainnya.
Jepang harus menyeimbangkan hubungan itu sambil juga mengatasi pembangunan militer China yang cepat.
T: Apa sikap partai tentang keamanan?

Kajiwara Takamoto: Ada tiga kebijakan utama di antara partai-partai.
Partai-partai berkuasa menyerukan untuk merevisi dokumen strategis, seperti strategi keamanan nasional, dan lebih memperkuat kemampuan pertahanan. Mereka mengatakan ini agar Jepang dapat menanggapi aktivitas di sisi Pasifik.
Ini dianggap sejalan dengan pemerintahan AS, yang telah memberitahu sekutu untuk meningkatkan belanja pertahanan.
Beberapa partai oposisi juga menyerukan untuk memperkuat pencegahan dalam lingkup konstitusi Jepang, yang secara eksklusif berfokus pada pertahanan. Seruan itu dilihat sebagai didasarkan pada pemeliharaan kebijakan keamanan yang terkendali.
Seruan dari partai oposisi lain, sementara itu, berfokus pada pengurangan belanja pertahanan. Gagasannya adalah menciptakan tatanan internasional yang damai dengan bekerja pada diplomasi.